Buka konten ini
ISTANBUL (BP) – Tampil di babak utama (fase league) Liga Champions merupakan alasan Fenerbahce mendatangkan Jose Mourinho. Pelatih yang pernah dua kali memenangi Liga Champions bersama FC Porto dan Inter Milan itu sudah gagal dalam kesempatan pertama musim lalu. Musim ini, tantangan Mourinho masih sama.
Jika musim lalu Sari Kanar-yalar, julukan Fenerbahce, dihentikan oleh Lille OSC (LOSC) di kualifikasi ketiga, musim ini skuad Mourinho menghadapi situasi sulit di fase yang sama. Kekalahan 1-2 di kandang Feyenoord Rotterdam, De Kuip, pada pertemuan pertama (7/8) membuat Milan Skriniar dkk harus mampu membalikkan keadaan di Chobani Stadium, Istanbul, dini hari nanti (siaran langsung Champions TV 1/Vidio pukul 00.00 WIB).
”Saya memang tidak pernah menang di De Kuip, tetapi saya selalu memenangkan leg kedua. Mereka akan sangat ’disambut’ di Istanbul. Selamat datang di neraka,” kata Mourinho menebar psywar kepada lawan seperti dilansir dari ESPN.
Mou Minta Agresif Sejak Awal
Pelatih berjuluk The Special One itu tidak mau mengulangi kesalahan di De Kuip. Yaitu ketika Skriniar dkk terlambat panas sehingga kebobolan sebelum 20 menit.
Bukan hanya itu. Sari Kanaryalar disebut Mourinho harus bisa bermain agresif sejak menit awal. Dalam leg pertama, Fenerbahce baru bisa mencetak gol empat menit sebelum waktu normal berakhir.
”Aku yakin dengan para pemainku. Mereka bisa bermain lebih bagus lagi,’’ ucap Mourinho kepada SuperFB.
Menurut bek kanan Fenerbahce Nelson Semedo, timnya akan memainkan skema main yang berbeda di Istanbul. Jika dalam leg pertama Fenerbahce bermain dengan skema agresif 4-3-3 tetapi malah tidak tampak di lapangan, maka skema 3-5-2 yang biasanya cenderung fokus bertahan, diharapkan malah teraplikasi sebaliknya di lapangan. Diwawancarai dalam kanal TV milik klub, Semedo yakin Fenerbahce bisa membalikkan keadaan.
“Kami punya pemain kelas Eropa, pelatih kami pun merupaka pelatih hebat di ajang antarklub Eropa. Aku rasa waktunya bagi kami menunjukkan jati diri kami yang sebenarnya,” tutur mantan bek SL Benfica, FC Barcelona, dan Wolverhampton Wanderers tersebut.
Van Persie Familier dengan Istanbul
Terpisah, pelatih Feyenoord Robin van Persie tidak gentar dengan atmosfer Chobani Stadium. Sebab, Van Persie punya pengalaman membela Fenerbahce selama tiga tahun (2015–2018) sehingga familier dengan stadion yang punya nama asli Sukru Saracoglu Stadium tersebut.
”Kami tidak takut bermain di sana (kandang Fenerbahce). Kami tidak akan lari,” kata pelatih yang baru memulai kariernya bersama SC Heerenveen pada 1 Juli 2024 tersebut kepada Voetbal International. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG