Buka konten ini

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan kawasan konservasi laut di Indonesia bisa diperluas mencapai 97,5 juta hektare pada tahun 2045. Hal ini guna mewujudkan program berbasis blue economy atau Ekonomi Biru.
”Ini plotting ruang konservasi, yang kita harapkan di tahun 2045 harus bisa mencapai 30 persen luas wilayah Indonesia yang artinya sama dengan 97,5 juta hektare,” kata Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono di acara Blue Ocean Strategy Fellowship, Jakarta.
Dia membeberkan, dengan perluasan wilayah konservasi laut nantinya kawasan tersebut tidak boleh dilalui oleh kapal, tidak boleh diambil ikannya. Bahkan, harus dijaga dan tidak boleh diganggu oleh kegiatan apapun.
Trenggono juga memberi contoh bagaimana asal muasal Teluk Cendrawasih di Papua dijadikan sebagai kawasan konservasi. Hal ini berkaitan dengan penyu yang makin langka karena hijrah ke wilayah California.
”Kenapa teluk cenderawasih dijadikan kawasan konservasi? karena di California penyunya makin hilang tinggal sedikit. Ilmuwan-ilmuwan di sana mencari penyu ini dari mana asalnya, itu dari Teluk Cendrawasih,” beber Trenggono.
Padahal, secara alamiah, penyu sebelum masuk ke laut, kata Trenggono, akan berbalik badan dulu dan motret wilayah itu. Kemudian, penyu akan merekam ke dalam memori kawasan tersebut sebelum masuk ke laut sampai besar.
Selanjutnya, lanjut Trenggono, saat penyu harus memijah, dia akan kembali lagi ke tempat itu. Namun sayang, oleh masyarakat di Teluk Cendrawasih telurnya diambil, dikonsumsi hingga berdampak pada kepunahan.
”Itulah kenapa di Teluk Cendrawasih ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Jadi ruang konservasi juga tidak sembarangan kita bikin, tidak mudah. Itulah yang harus kita jaga, kita harus bisa mencapai 97,5 juta hektare,” ungkapnya.
Dia juga menyampaikan tiga hal penting dari kegiatan konservasi yang masuk dalam salah satu pilar Blue Economy. Pertama, sebagai tempat pemijahan biota lautan, terlebih laut adalah ekosistem yang saling terikat. Mulai dari biota kecil hibgga alga.
”Lalu yang kedua, sebagai serapan CO2 carbon emisi. Yang ketiga adalah produksi karbon. Jadi tiga hal penting untuk kehidupan umat manusia,” pungkasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY