Buka konten ini

Ruang terbuka hijau yang penuh nostalgia ini bukan sekadar lapangan luas yang dikelilingi pepohonan yang membuat teduh. Namun menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan perkembangan Tanjungpinang, Ibu Kota Kepulauan Riau (Kepri).
DI tengah pesatnya perkembangan Kota Tanjungpinang, berdiri sebuah ruang teduh yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kota Gurindam. Ruang terbuka hijau ini pernah mengiringi perjalanan sejarah Tanjungpinang.
Berpuluh tahun lalu, taman ini menjadi titik kumpul, magnet keramaian, tempat masyarakat mencari teduh, berbagi cerita, hingga menggelar berbagai aktivitas budaya dan olahraga.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990–2000-an, taman ini adalah pusat berbagai aktivitas. Dari upacara resmi pemerintahan, lomba rakyat saat perayaan kemerdekaan, hingga arena latihan baris-berbaris para pelajar. Bahkan, pada pagi dan sore hari, taman yang bersanding dengan lapangan luas ini selalu ramai oleh warga yang berolahraga atau sekadar bercengkerama di bawah naungan pohon hijau yang rimbun.
Kini, suasananya tidak sehidup masa lalu. Meski masih menjadi ruang terbuka hijau, taman ini perlahan mulai kehilangan gemerlapnya. Taman legendaris yang mulai terlupakan itu adalah Taman Pamedan Ahmad Yani, Tanjungpinang.
Meski demikian, bagi sebagian warga Tanjungpinang, Taman Pamedan tetap memiliki tempat spesial di hati. Tempat ini menjadi lokasi nostalgia, bercengkerama, sekaligus berolahraga.
Keistimewaan taman ini juga terletak pada lokasinya yang strategis karena berada di jantung Kota Tanjungpinang. Berdekatan dengan kantor pemerintahan, sekolah, dan kawasan perbelanjaan.
Taman Pamedan berlokasi di kawasan Batu 4, Tanjungpinang. Dikelilingi empat jalan utama, yaitu Jalan Raja Ali Haji, Jalan Ahmad Yani, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Pemuda, dan Jalan Engku Putri. Sebagai salah satu ruang terbuka hijau yang masih tersisa, taman yang diperkirakan dibangun pada awal 1980-an ini sejatinya tetap berperan penting bagi kualitas udara dan ruang interaksi masyarakat.
Di tengah perkembangan pembangunan dan minimnya lahan terbuka di pusat kota, Taman Pamedan Ahmad Yani menyimpan pesan dan nostalgia. Ruang teduh ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari identitas dan napas kota.
Menurut warga setempat, ruang teduh dan hijau seperti Taman Pamedan Ahmad Yani bukan hanya pelengkap kota, tetapi juga saksi sejarah perkembangan Tanjungpinang, penyimpan kenangan, dan lambang identitas kota.
”Waktu kami kecil, kami sering main bola di lapangan Pamedan ini. Kalau sekarang ke sini, ya bisa nostalgia ingat masa kecil,” kata Didid (43), warga Jalan Pemuda, Tanjungpinang, Minggu (10/8).
Pada era 1990-an, ungkap Didid, lapangan atau Taman Pamedan kerap dijadikan tempat berbagai kegiatan, terutama Pameran Pembangunan Tanjungpinang yang digelar setahun sekali.
”Dahulu, seingat kami, setiap Agustus atau Januari ada Pameran Pembangunan di sini. Waktu itu kami bisa lihat dan belajar segala hal tentang Tanjungpinang. Tapi sekarang, tidak ada lagi pameran,” kenang Didid di sela-sela jalan santai di taman.
Kini, lanjut Didid, Taman Pamedan telah dipercantik. Dilengkapi panggung, tempat bermain anak, musala, jalur jalan santai, batu pijat refleksi, lapangan sepak takraw, lapangan basket, papan wall climbing (latihan panjat), gazebo dengan bangku beton dan besi, toilet, hingga tong sampah.
”Kadang hari Sabtu dan Minggu pun sepi, karena orang-orang pergi ke tempat santai baru di Dompak, bandara, dan tepi laut,” ujarnya.
Banyak warga Tanjungpinang berharap Taman Pamedan diberi sentuhan konsep taman modern dan kembali menjadi pusat aktivitas publik. Jika dikelola dengan konsep taman kota modern namun tetap mempertahankan nilai sejarahnya, Taman Pamedan Ahmad Yani yang mulai meredup ini bisa kembali bersinar menjadi ikon kota.
Dengan sedikit sentuhan modern yang tepat, taman ini berpotensi kembali menjadi ruang teduh yang membangkitkan kebersamaan, seperti masa emasnya dulu.
”Cukup bersih lah sekarang taman ini. Setiap hari ada petugas kebersihan yang bersih-bersih. Tapi sayang, toilet kadang tidak ada airnya,” sebut Sarjana Ekonomi ini.
Didid menambahkan, saat ini lapangan Taman Pamedan juga kerap dijadikan tempat aktivitas keagamaan, sosial, ekonomi, budaya, dan konser musik.
”Kalau ada acara, baru ramai. Pas bulan puasa, ada pasar Ramadan. Salat Idulfitri dan Iduladha juga di sini,” terangnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG