Buka konten ini
27 tahun adalah perjalanan yang panjang. Ibarat perjalanan seorang manusia. Usia 27 tahun adalah usia matang untuk hidup mandiri, bijaksana, dan layak untuk berumah tangga.
Batam Pos lahir di tanggal 10 Agustus 1998. Artinya Batam Pos lahir di era reformasi, era keterbukaan informasi yang disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Indonesia.
Era dimana berita di koran selalu ditunggu-tunggu untuk mengawali hari. Koran menjadi sarapan wajib di pagi hari ditemani secangkir kopi dan kudapan.
Era dimana berita headline selalu menjadi topik utama di kedai-kedai kopi, di kantor-kantor dinas, di kampus-kampus, di ruang guru sekolah, di pasar-pasar, bahkan jadi perbincangan hangat di pangkalan-pangkalan taksi dan ojek.
Seolah-olah setiap orang harus tahu berita apa yang sedang hangat disorot kamera jurnalis dan ditulis tajam pena sang pewarta. Koran dibawa ke mana-mana, diselipkan ke dalam saku belakang atau ditenteng begitu saja.
Koran eceran laris manis terjual di lampu merah, rak toko, dan supermarket. Pelanggan terus bertambah dari hari ke hari. Staf kantor bagian pemasaran dan customer service selalu sibuk meladeni pelanggan yang ingin berlangganan koran atau yang ingin pasang iklan, baik yang datang langsung ke kantor maupun by phone.
Bahkan di tahun 2009-2012, iklan di Batam Pos, 60-70 persennya berisi iklan. Sisanya berita. Pemasang iklan sampai harus indent. Harus bersabar menunggu beberapa hari untuk menerbitkan iklannya.
Waktu itu, iklan otomotif, properti, dan travel merajai. Dari sekian banyak iklan tersebut, 70 persennya adalah iklan swasta, 30 persen iklan pemerintah. Tidak hanya iklan, prestasi-prestasi Batam Pos di bidang jurnalistik juga moncer. Dari dapur redaksi Batam Pos berbagai penghargaan diraih baik di tingkat lokal maupun di tingkat nasional. Prestasi lewat jurnalis dan jurnalis foto andal terus diraih hingga kini.
Di bidang event organizer, Batam Pos juga sudah berpengalaman menggelar acara massal, seperti rally wisata, funwalk, funbike, funrun, seminar, bazar, dan expo. Rally wisata, Batam Pos adalah pionirnya di Batam. Event terakhir yang di-handle Batam Pos adalah event Futsal UT Hi-School Championship 2025, 1-3 Agustus lalu di Sport Hall Temenggung Abdul Jamal. Turnamen futsal terbesar di Kepri.
Di era tersebut, koran menjadi primadona. Setelah era tersebut, sinar media cetak memudar seiring hadirnya era digital. Dimana hampir semua orang dimanjakan oleh kemudahan mengakses informasi melalui layar-layar monitor telepon pintar yang bisa dibawa ke mana-mana dan kapan saja.
Pelan-pelan tapi pasti, habbit sebagian besar orang berubah. Yang dulunya, bangun pagi sibuk mencari koran, kini sibuk buka hp. Sekadar membaca pesan yang belum sempat dibaca di grup WA atau akun media sosialnya.
Berita headline yang dulunya selalu ditunggu-tunggu di saat sarapan, bahkan dengan hati berdebar-debar (bagi mereka yang sedang disorot jurnalis), kini beragam berita bisa muncul secepat kilat di ruang digital: website yang kemudian digaungkan lewat aplikasi perpesanan dan media sosial. Dari perkotaan hingga ke sudut perdesaan terpencil.
Pembaca tidak menunggu lagi berita headline koran atau prime time televisi di pukul 18.00 atau 20.00. Berita sudah tidak ditunggu lagi, berita kini datang membanjiri ruang-ruang digital.
Lalu, di mana posisi media cetak? Media cetak seperti Batam Pos tetap menjadi pilar bagi media massa untuk menjaga nilai-nilai demokrasi, tetap terbuka dan patuh terhadap kode etik jurnalistik.
Sembari itu, Batam Pos juga mengembangkan sektor digital. Di platform digital, Batam Pos punya media online batampos.co.id, media sosial (Instagram, Facebook, X, TikTok, dan YouTube). Medsos Batam Pos terus berkembang dari hari ke hari. Momennya ketika pemerintah mengumumkan pandemi Covid-19 di 2020.
Peredaran koran sangat terdampak karena pergerakan manusia dibatasi dengan ketat. Belanja iklan dari perusahaan swasta dan pemerintah pun merosot tajam. Itu sangat memukul Batam Pos sebagai perusahaan yang mempekerjakan banyak karyawan. Grafik omzet yang terjun bebas berdampak pada operasional perusahaan, sehingga perusahaan mengambil kebijakan merumahkan karyawan secara bergiliran, bahkan petinggi dan karyawan harus rela dipotong gajinya. Dimana ketika itu, kondisi tersebut jamak dialami perusahaan-perusahaan.
Setelah badai Covid-19 sudah berlalu, sejak 21 Juni 2023 dengan ditetapkannya Keppres No. 17 Tahun 2023, kondisi sosial dan kegiatan perekonomian pelan-pelan normal kembali. Ada perusahaan yang cepat rebound, ada juga yang lambat. Dampak Covid-19 yang begitu dahsyat itu masih terasa hingga kini.
Di Batam, perusahaan yang berorientasi ekspor-impor dari awal memang tidak terlalu terdampak. Kegiatan operasional berjalan normal dengan tetap menjalankan aturan pembatasan dari pemerintah, seperti wajib pakai masker, hand sanitizer, dan jaga jarak. Namun, perusahaan di sektor pariwisata; hotel, restoran, agent travel, dan turunannya baru bisa bernapas lega.
Ini bisa dilihat dari munculnya kafe-kafe modern yang selalu ramai pengunjung di sejumlah wilayah, sebut saja di kawasan wisata Golden Prawn yang berlokasi di Kecamatan Bengkong, Mega Legenda di Batam Kota, Harbour Bay di Batuampar, Tiban di Sekupang, dan di wilayah Batuaji. Kafe-kafe tempat ngopi dan bersantai tumbuh bagai jamur di musim hujan di tempat-tempat strategis.
Indikasi mulai bergeliatnya aktivitas sosial dan ekonomi di Batam juga bisa dilihat dari tingkat hunian hotel yang grafiknya naik dibanding saat pandemi Covid-19, mal-mal dan tempat-tempat wisata yang mulai ramai pengunjung, baik pengunjung lokal maupun wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Juga aktivitas penyeberangan pelabuhan-pelabuhan internasional Batam-Singapura dan Batam-Malaysia yang sudah kembali normal. Terminal kembali padat di akhir pekan dan hari libur.
Media massa bagaimana? ”Struggle,” ucap seorang kawan petinggi TV nasional untuk menggambarkan media massa dalam satu kata. Ya, media massa seperti Batam Pos harus tetap berjuang untuk menyelamatkan awaknya ke dermaga yang aman. Apapun tantangannya harus dihadapi demi awak media dan keluarganya, demi demokrasi, demi cita-cita reformasi.
Fainna ma’al usri yusra. ”Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.”
Tak cukup sekali. Allah SWT mengulang firmannya di ayat berikutnya (5-6) dengan kalimat yang sama.
”Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.”
Penegasan dalam surat Al Insyirah tersebut meyakinkan kepada hambanya yang berjuang bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan.
Batam Pos di Dunia Baru
Media massa sebagai pemegang otoritas informasi karena jurnalis diberi hak istimewa yakni hak untuk bertanya, kemudian mengumpulkan data, mengolahnya, dan menyebarluaskan. Kami tidak akan duduk manis di kursi singgasana, kami akan selalu terbuka bagi siapa saja untuk membangun kepercayaan.
Perlu pembaca tahu bahwa Batam Pos merupakan grup Jawa Pos yang medianya tersebar dari Sabang sampai Merauke. Jaringan informasi kami terjalin lewat newsroom yang selama 24 jam. Lalu lintas berita-berita terbaik di seluruh Indonesia tersaji dalam newsroom tersebut: berita dan foto.
Batam Pos sendiri telah membuka jalur (channel) bagi masyarakat (netizen) untuk berbagi informasi yang akurat. Ini bentuk kolaborasi untuk membangun informasi yang bisa dipercaya. Kami sadar bahwa newsroom kami yang eksklusif tersebut tidak cukup untuk menjadi sajian yang menarik dan penting bagi pembaca. Kami perlu menambah ”newsroom-newsroom” di luar newsroom yang kami punya. Newsroom itu ada di WhatsApp, TikTok, Reel Instagram, Shorts video YouTube, dan Telegram, yang disebar oleh netizen seantero jagat!
Kami harus membuang ego, namun kami tidak membuang etika jurnalistik: berita berimbang, berita terkonfirmasi, narasumber yang kompeten. Tak lupa, para redaktur akan mengecek kembali berita yang dikirim para reporter sehingga berita yang sampai ke pembaca adalah berita yang dapat dipercaya: A1!
Hingga kini, dimana kecerdasan buatan (AI) semakin merajai jagat maya, Batam Pos bersikap tidak menolak. Kami memanfaatkannya untuk kemudahan kerja-kerja jurnalistik. Misalnya, untuk merapikan tulisan typo yang diketik dengan buru-buru oleh reporter ketika meliput sebuah peristiwa. Atau membuat gambar ilustrasi berita ketika fotografer kami tidak mendapatkannya. Atau membuat grafik data tabulasi.
Kami juga percaya bahwa kepercayaan tidak dibangun dari menara gading. Kepercayaan terhadap informasi dibangun dari kemauan untuk mendengar, belajar, dan bertransformasi. (*)