Buka konten ini
SELAMA beberapa tahun Indonesia menyandang status sebagai negara paling dermawan di dunia. Tetapi dalam laporan terkiki World Giving Report (WGR) 2025, posisi Indonesia anjlok ke peringkat 12. Posisi Indonesia disalip negara-negara dari benua Afrika.
Di posisi teratas laporan WGR 2025, Nigeria menjadi negara paling dermawan dengan donasi rata-rata mencapai 2,83 persen dari pendapatan per kapita. Mesir menyusul di posisi kedua (2,45 persen), diikuti China dan Ghana (2,19 persen), serta Kenya (2,13 persen).
Kondisi tersebut sempat disinggung Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kamaruddin Amin. Pria yang juga menjadi Sekjen Kementerian Agama (Kemenag) itu meyakini bahwa kedermawanan masyarakat di Indonesia masih tinggi.
”Saya kaget Indonesia bukan lagi paling dermawan. Kalah dengan negara-negara Afrika. Ini tantangan untuk kita,” katanya di pembukaan Rakernas BWI di Jakarta, Selasa (5/8).
Sesuai tugasnya, Kamaruddin akan mengawal penghimpunan wakaf di Indonesia. Dia menegaskan bahwa potensi wakaf di Indonesia sangat besar. Ia mencontohkan untuk wakaf tunai atau wakaf uang saja, potensinya mencapai Rp 181 triliun per tahun.
Tetapi saat ini penghimpunan wakaf tunai masih sekitar Rp 3,5 triliun. Masih jauh dari potensinya.
Untuk itu, dia menginisiasi supaya ASN Kemenag memulai kewajiban melakukan pembayaran wakaf uang.
”Bisa mulai dari Rp 50 ribu per tahun, Rp 100 ribu per tahun, atau lebih besar lagi,” katanya.
Dengan jumlah ASN yang mencapai 400 ribu orang, akan terkumpul dana yang besar. Apalagi jika melibatkan guru-guru, siswa, santri, dan mahasiswa di bawah naungan Kemenag. Dia menegaskan wakaf uang tidak habis uang pokoknya. Yang disalurkan hanya hasil pengelolaannya. Misalnya untuk beasiswa pelajar dari keluarga miskin atau lainnya.
Selain wakaf uang, Kamaruddin juga mengatakan wakaf berupa aset fisik seperti tanah atau sejenisnya juga sangat banyak. Jumlahnya mencapai 400 ribu titik. Sebagian digunakan untuk membangun masjid, lembaga pendidikan, dan makam.
Ke depan aset tanah wakaf yang belum dikelola, harus bisa dimaksimalkan. ”Selama ini sudah ada yang dikelola secara produktif. Misalnya untuk persawahan, perikanan, dan lainnya,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Kamaruddin juga menyampaikan Gerakan Indonesia Berwakaf. Menurut dia, lewat Gerakan Indonesia Berwakaf sangat relevan sekali dan sangat terkait dengan Indonesia Emas 2045. Karena Indonesia berwakaf tujuan akhirnya adalah mengentaskan kemiskinan.
Baginya, Indonesia emas itu artinya menandai Indonesia maju, Indonesia yang tidak ada lagi orang miskinnya.
”Sehingga wakaf diharapkan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan, mencerdaskan anak-anak bangsa, itu semua relevansinya ke sana,” kata Kamaruddin.
Dia menambahkan, Indonesia yang tidak miskin, Indonesia yang cerdas, Indonesia yang sehat, dan Indonesia yang memiliki pendapatan per kapitanya yang tinggi.
Wakaf bisa berfungsi sebagai pendukung untuk memungkinkan terwujudnya cita-cita atau visi Indonesia Emas 2045. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO