Buka konten ini

Sebagai minuman klasik yang merakyat, teh tarik dengan sensasi buih dan rasa asli bukan sekadar kuliner khas Tanjungpinang atau penghilang dahaga. Ia telah menjadi sajian lawas yang sarat cerita dan tradisi.
AROMA teh yang pekat berpadu susu kental manis menyeruak dari sebuah kedai kecil di kawasan Jalan Ganet, Tanjungpinang. Di balik meja saji, tampak seorang lelaki mengenakan celemek, cekatan menuang cairan berwarna cokelat keemasan dari satu canting ke canting lainnya.
Gerakannya cepat, terukur, seolah memiliki ritme tarikan tersendiri. Cairan itu “ditarik” berulang kali hingga membentuk buih di permukaannya. Dari dalam canting, cairan berbusa itu dituang ke dalam gelas, kemudian disajikan hangat ataupun dingin dengan tambahan es batu.
Minuman itu adalah teh tarik—minuman lawas yang bukan hanya meng-hilangkan dahaga, tetapi juga membawa cerita. Bagi sebagian orang, tarikan panjang itu hanyalah trik mendinginkan teh. Namun, bagi masyarakat Tanjungpinang, tarikan itu adalah seni. Sebuah atraksi yang lahir dari tradisi.
Akar Sejarah Teh Tarik di Kota Lama
Teh tarik pertama kali hadir di Tanjungpinang sejak ratusan tahun lalu. Minuman ini diyakini datang bersama gelombang perantau keturunan India dan Melayu yang membawa resep turun-temurun pada 1800-an.
Kedai-kedai kopi di sudut kawasan Kota Lama menjadi saksi bisu lahirnya minuman ini.
Dari sana, aroma teh pekat menye-ruak, menarik langkah para pelaut, pedagang, hingga pejabat kolonial yang kala itu singgah di pelabuhan Tanjungpinang.
Seiring waktu, teh tarik menjelma menjadi bagian dari identitas kuliner kota ini. Dari warung tradisional hingga kafe modern, hampir semuanya menyajikan teh tarik sebagai menu andalan.
Bahkan, beragam varian rasa modern bermunculan. Tak hanya teh tarik asli, kini ada teh tarik matcha, teh tarik cincau, jahe, jagung, hingga kopi tarik.
Kini, teh tarik bukan sekadar minuman. Ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan Tanjungpinang yang terus berkembang, namun tetap menjunjung tinggi tradisi.
Filosofi dalam Segelas Teh
Menurut pemilik Kedai Teh Tarik Bang Raja di Jalan Masjid, kawasan Kota Lama, Raja Hanafi, teh tarik adalah minuman yang merakyat, yang menyimpan filosofi kebersamaan.
Orang-orang jadi berkumpul, bercengkerama, tertawa bersama di atas meja yang dihiasi gelas-gelas teh tarik berbuih,” ujar pria 43 tahun yang akrab disapa Bang Raja, kepada Batam Pos, Rabu (6/8).
Bang Raja menjelaskan, ciri khas teh tarik terletak pada cara penyajiannya. Pati teh dicampur dengan susu kental manis, lalu “ditarik” dari satu canting ke canting lainnya hingga berbusa.
“Siapkan air mendidih, dua sendok pati teh, ditambah susu dan dua canting. Setelah itu cairan cokelat keemasan itu ditarik selama kurang lebih dua menit,” ungkapnya.
Proses ini, kata dia, bukan sekadar teknik, melainkan seni menyajikan teh. Di banyak kedai di Tanjungpinang, atraksi menarik teh bahkan menjadi hiburan tersendiri bagi para pelanggan.
“Kalau di kedai kami, harga segelas teh tarik ramah di kantong, mulai Rp10 ribu sampai Rp15 ribu tergantung variannya,” jelasnya.
Teh Tarik, Emas, dan Edukasi
Untuk menarik pelanggan menikmati sensasi buih dan rasa teh tarik, Bang Raja membuat terobosan unik. Ia menyediakan paket pembelian khusus yang sekaligus menjadi bentuk edukasi menabung emas kepada generasi muda.
Bang Raja menyebut, menabung emas adalah kebiasaan baik. Karena itu, setiap pembelian lima gelas teh tarik, pelanggan akan mendapatkan satu keping emas Antam seberat 0,01 gram.
Jika sudah terkumpul 50 keping, pelanggan bisa menukarnya dengan 0,5 gram emas Antam di Kedai Teh Tarik Bang Raja di Jalan Masjid maupun Jalan Ganet, Tanjungpinang.
“Selain edukasi menabung, penjual dan pembeli sama-sama dapat untung. Jadi, semua senang,” tutupnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG