Buka konten ini

BATAM (BP) – Keluhan Apindo pusat yang menyebut Batam salah satu kawasan investasi yang banyak premannya ternyata bukan isapan jempol belaka. Aksi premanisme yang menganggu dunia investasi dan dunia usaha itu sudah sangat meresahkan.
Salah satunya, pengusaha atau penyewa tenant di Union Industrial Park, Batuampar, mengeluhkan layanan jasa bongkar muat peti kemas di kawasan tersebut. Jasa yang disediakan pengelola, PT Union Batam Abadi, dinilai dimonopoli kelompok tertentu.
“Sekarang ini untuk bongkar muat sudah dimonopoli oleh satu kelompok. Jika tidak menggunakan jasa mereka, mereka akan menurunkan puluhan massa dan menghentikan aktivitas kami,” ujar salah seorang pengusaha yang enggan disebutkan namanya, Selasa (5/8).
Ia menjelaskan, PT Union Batam Abadi menyediakan dua layanan, yakni kelompok UC dan kelompok US. Para pengusaha seharusnya bebas memilih di antara keduanya.
“Kami (pengusaha) harusnya bebas memilih. Saya pribadi membagi penggunaan jasa keduanya, karena tidak ingin mematikan usaha orang,” katanya.
Namun, kelompok US tidak menerima pembagian layanan tersebut. Mereka bahkan menurunkan puluhan massa dan mengganggu aktivitas bongkar muat yang dilakukan oleh kelompok UC atas pilihan pengusaha.
“Sejujurnya, kelompok UC lebih profesional. Tapi kelompok US tidak terima, sampai menghentikan aktivitas kami. Pekerjaan yang seharusnya selesai siang hari jadi molor hingga sore,” keluhnya.
Ia menambahkan, pengelola kawasan sebenarnya sudah menegur kelompok US, tetapi teguran tersebut tidak diindahkan. Gangguan terus berlanjut terhadap pengusaha yang tidak menggunakan jasa mereka.
“Selain menghentikan pekerjaan, kadang mereka datang ke lokasi bongkar muat hanya untuk meminta jatah (uang). Kami merasa sangat tidak nyaman,” tambahnya.
Ia menilai, kondisi ini dapat mengganggu iklim investasi di Kota Batam. Untuk itu, ia meminta BP Batam dan aparat penegak hukum segera mengambil tindakan tegas.
“BP Batam katanya mau genjot investasi, tapi ini masalahnya belum beres. Kalau sampai diketahui investor luar, mereka bisa mundur,” ujarnya.
Menurutnya, praktik serupa juga terjadi di beberapa kawasan industri lain, tetapi para pengusaha enggan bersuara karena khawatir akan dampaknya terhadap usaha mereka.
“Masih banyak kawasan lain yang mengalami hal sama. Hanya saja, pengusahanya diam karena takut bermasalah ke depan,” ucapnya.
Sementara itu, Kapolresta Barelang, Kombes Zaenal Arifin, menegaskan bahwa pihaknya akan menindak semua bentuk premanisme di kawasan industri. Ia juga meminta para pengusaha atau investor tidak ragu berinvestasi di Batam.
“Tidak boleh ada premanisme di Batam. Kami pastikan investasi yang legal akan kami jaga dan kami backup,” tegasnya.
Zaenal menyebut, pihaknya secara rutin melakukan upaya pencegahan premanisme, seperti patroli dialogis ke perusahaan-perusahaan serta berkoordinasi dengan pengamanan kawasan industri. “Kami bersinergi dengan Ditpam BP Batam karena kawasan industri berada dalam pengawasan mereka. Kami juga berkoordinasi dengan Pemko,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya terus mengevaluasi dan memperbaiki langkah-langkah pencegahan agar kekhawatiran pengusaha terhadap premanisme tidak terbukti. “Intinya, kami perbaiki terus upaya pencegahan ini agar tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan,” tandasnya.
Meski demikian, hingga saat ini, Zaenal menyatakan belum ada laporan resmi dari perusahaan maupun pengusaha terkait gangguan oleh kelompok preman. “Laporan premanisme dari perusahaan sampai saat ini belum ada. Semuanya masih kondusif,” tutupnya. (*)
Reporter : Yofi Yuhendri
Editor : RYAN AGUNG