Buka konten ini

Di sebuah sudut utara Pulau Bintan, bergeliat sebuah gerakan sunyi yang kini mulai bersuara lantang. Gerakan itu bernama BOS, singkatan dari Bintan Ojek Sampah. Namanya boleh sederhana, tapi misinya jauh lebih besar daripada sekadar menjemput sampah, hingga mampu menembus panggung nasional.
Di sudut utara Pulau Bintan, tepatnya di Kelurahan Tanjunguban Selatan, ada sekelompok warga yang tak pernah lelah bergelut dengan sampah. Namun bukan sembarang bergelut. Mereka tak hanya memungut dan memilah, tapi juga mengubah sampah menjadi sesuatu yang lebih berarti. Mereka menamakannya Bintan Ojek Sampah atau akrab disingkat BOS.
Program ini sederhana dalam konsep, tapi kuat dalam dampaknya. BOS bukan sekadar ojek yang mengantar barang, melainkan layanan yang menjemput sampah dari rumah-rumah warga untuk ditimbang dan diolah di Bank Sampah Pensosmas. Sebuah inovasi yang tak hanya menyentuh isu lingkungan, tapi juga menggugah kesadaran masyarakat soal tanggung jawab bersama.
“Kalau dulu warga harus repot-repot datang sendiri ke lokasi penimbangan, sekarang cukup memilah sampah di rumah. Tim BOS yang akan menjemput,’’ ujar Miswanto, Ketua Bank Sampah Pensosmas, saat ditemui Selasa (5/8).
Dalam dua tahun terakhir, program BOS tumbuh pelan tapi pasti. Dengan sistem penjemputan berbasis permintaan, BOS menekankan satu hal utama: disiplin dalam memilah. Sampah organik dan anorganik harus dipisah sebelum dijemput. Tidak bisa sembarangan.
“Aturannya jelas. Hanya sampah yang sudah dipilah yang akan kami ambil. Dari situ, masyarakat jadi terbiasa memilah. Lama-lama jadi budaya,’’ kata Miswanto dengan nada optimistis.
Upaya itu kini membuahkan hasil. BOS menjadi salah satu dari lima inovasi pelayanan publik asal Kabupaten Bintan yang berhasil menembus babak final ajang Top Inovasi Pelayanan Publik 2025 yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB). BOS sendiri bersaing dalam kategori Transformasi Digital Pelayanan Publik.
Di balik pencapaian itu, tim pelaksana BOS tengah bekerja keras menyempurnakan semua aspek pendukung. Tak hanya soal operasional, tapi juga ketertiban administratif. Data nasabah, volume sampah, hingga dokumentasi penjemputan semua disiapkan rapi.
“Administrasi itu penting. Penilaian bukan cuma soal ide, tapi juga implementasi di lapangan. Kami pastikan semua data tersedia dan valid,’’ tegas Miswanto.
Kini, BOS tak lagi sekadar proyek lokal. Ia tumbuh sebagai gerakan yang membuka mata. Bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari rumah, dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan disiplin.
“Kami ingin BOS tidak hanya menjadi finalis di atas kertas. Tapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan generasi mendatang,’’ ucap Miswanto, menutup percakapan. (***)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO