Buka konten ini

Tanjungpinang bukan hanya berkembang dengan bangunan modern, tetapi juga memiliki warisan arsitektur klasik yang menjadi ikon religi dan saksi sejarah peradaban. Salah satunya adalah Masjid Agung Al Hikmah, bangunan bersejarah yang tetap berdiri kokoh di jantung kota.
SEBAGAI ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang memiliki kisah klasik yang erat kaitannya dengan perkembangan budaya Melayu dan Islam. Salah satu penanda sejarah tersebut adalah Masjid Agung Al Hikmah—masjid berusia dua abad yang kini menjadi ikon religi sekaligus pusat aktivitas keagamaan di kota ini.
Masjid Agung Al Hikmah yang megah dan populer ini terletak di kawasan Kota Lama, Kelurahan Tanjungpinang Kota. Lokasinya cukup strategis, berada di antara empat jalan utama di Tanjungpinang: Jalan Masjid, Jalan Muhammad Yusuf Kahar, Jalan Tabib, dan Jalan Diponegoro. Bangunan ini memiliki luas sekitar 35 x 30 meter persegi.
Ketua Yayasan Masjid Agung Al Hikmah, Raja Hanafi, menjelaskan bahwa masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi terakhir dilakukan dengan mengusung arsitektur bergaya perpaduan Melayu dan Arab. Atap masjid berbentuk limas dengan tiga tingkatan yang mengerucut ke atas. Pada tingkatan kedua, terdapat kubah kecil di setiap sudut atap, sementara bagian paling atas dihiasi satu kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil.
Di halaman masjid juga berdiri sebuah menara setinggi sekitar 40 meter yang menjadi ciri khas visualnya. ”Masjid ini memiliki tiga pintu masuk utama, masing-masing di sisi kanan, kiri, dan belakang,” jelas Raja Hanafi saat ditemui Batam Pos, Senin (4/8).
Bagian dalam masjid dihiasi dengan mimbar dari kayu jati bergaya Melayu. Dinding bagian atas dipenuhi tulisan kaligrafi yang menegaskan nuansa keislaman.
“Dulu, saat saf penuh, Masjid Agung Al Hikmah mampu menampung hingga tiga ribu jemaah. Tapi sekarang, karena banyaknya masjid baru di sekitarnya, kapasitasnya tidak lagi terisi penuh,” ungkapnya.
Selain sebagai tempat ibadah harian, masjid ini juga aktif dalam kegiatan pendidikan dan sosial, seperti pengajian rutin, majelis taklim, penyembelihan hewan kurban saat Iduladha, serta kegiatan sosial lainnya.
“Menara masjid ini bisa disebut sebagai ikon Tanjungpinang, yang mencerminkan jati diri kota Melayu yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islami,” tambah Raja Hanafi, yang juga bertugas sebagai muazin tetap di masjid tersebut.
Peneliti sejarah dari BRIN, Dedi Arman, menyebut Masjid Agung Al Hikmah sebagai bukti nyata perpaduan sejarah, budaya, dan spiritual masyarakat Tanjungpinang. ”Keindahan arsitektur Melayu-Arab, nilai sejarah, dan peran sosialnya menjadikan masjid ini sebagai warisan masa lalu yang harus dijaga generasi mendatang,” tegas Dedi.
Menurut catatan sejarah, masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1834, awalnya berdekatan dengan Vihara Bahtera Sasana. Kemudian, pada tahun 1860, di kawasan Kota Lama terdapat tiga rumah ibadah yang berdiri berdekatan: Masjid Keling, Gereja GPIB (Gereja Ayam), dan Vihara Bahtera Sasana.
“Pada tahun 1834, belum ada gereja di Tanjungpinang. Namun seorang pendeta Belanda yang datang ke kota ini sudah mencatat keberadaan Masjid Keling,” kata Dedi.
Masjid ini awalnya dibangun oleh komunitas Muslim India yang datang ke Tanjungpinang untuk berdagang pada awal 1800-an. Mereka bersepakat mendirikan tempat ibadah, yang kemudian diberi nama Masjid Keling. Bangunannya terbuat dari kayu kapur (kayu merah) dan berbentuk panggung, meskipun tidak terlalu dekat dengan garis pantai.
Kini, bangunan asli Masjid Keling tidak lagi tersisa. Di atas lokasinya, berdirilah Masjid Agung Al Hikmah yang telah direnovasi sebanyak tiga kali sejak 1956. “Sampai hari ini, masjid ini masih aktif digunakan untuk salat lima waktu, salat Tarawih, salat Idulfitri, dan Iduladha,” tutup Dedi. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : RYAN AGUNG