Buka konten ini

Bogor (BP) – Sebuah pesawat latih milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) mengalami kecelakaan fatal di wilayah Kabupaten Bogor. Hanya 11 menit setelah meninggalkan Landasan Udara Atang Sendjaja, pesawat itu hilang kontak dan kemudian ditemukan jatuh di area pemakaman umum Desa Benteng, Kecamatan Ciampea.
FASI sendiri adalah organisasi olahraga kedirgantaraan yang berada di bawah pembinaan TNI Angkatan Udara (AU). Kadispen TNI AU, Marsekal Pertama I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa penerbangan tersebut merupakan bagian dari program latihan profisiensi dalam bidang olahraga dirgantara, bertujuan menjaga serta mengasah kemampuan terbang para penerbang sipil maupun militer.
Akibat kecelakaan ini, Marsekal Madya TNI Fajar Adriyanto—yang bertugas sebagai pilot—meninggal dunia saat mendapatkan penanganan medis. Fajar diketahui merupakan salah satu penerbang F-16 yang terlibat dalam misi pengawasan udara terhadap pesawat asing di langit Bawean pada 2003.
Sementara itu, kopilot bernama Roni dilaporkan mengalami luka serius. Di media sosial, beredar video yang menunjukkan pesawat sempat berputar-putar dan mengeluarkan percikan api sebelum jatuh. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi mengenai penyebab pasti kecelakaan. TNI AU menegaskan bahwa pesawat telah memenuhi persyaratan laik terbang dan mengantongi izin penerbangan yang sah.
Jenazah Marsekal Madya Fajar kini berada di Rumah Sakit AU Atang Sendjaja untuk prosesi pemakaman, dan lokasi jatuhnya pesawat telah diamankan aparat.
Fajar Adriyanto, lulusan AAU tahun 1992 dengan call sign ”Red Wolf”, merupakan sosok penerbang tempur yang pernah menjabat di berbagai posisi penting seperti Komandan Skadron Udara 3, Komandan Lanud Manuhua, hingga Kapoksahli Kodiklatau.
Pada 3 Juli 2003, ia menjadi salah satu dari empat penerbang F-16 yang dikirim dari Lanud Iswahjudi untuk melakukan identifikasi atas aktivitas pesawat asing tak dikenal di barat laut Pulau Bawean, sekitar 66 mil laut dari Surabaya. Mereka diperintahkan untuk tidak mengunci radar agar tidak memicu konflik.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dua jet tersebut adalah F/A-18 milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Dalam situasi yang tegang, salah satu F-16 Indonesia nyaris dikunci radar oleh jet asing, namun mampu menghindar berkat sistem penangkal elektronik. Meskipun memiliki peluang menembak, F-16 Indonesia tidak melakukannya demi menghindari eskalasi.
Jet-jet tempur AS itu diketahui berasal dari kapal induk USS Carl Vinson yang sedang melintas di sekitar perairan Indonesia. Insiden ini sempat menjadi polemik diplomatik. Pemerintah Indonesi mengajukan protes resmi terhadap AS, sementara Kedutaan Besar AS menyatakan bahwa mereka telah meminta izin kepada pemerintah Indonesia—klaim yang kemudian dibantah oleh Jakarta.
Insiden ini juga diliput oleh media internasional seperti Los Angeles Times dengan artikel berjudul “Indonesian, U.S. Jets Face Off Near Java” (5 Juli 2003), dan Sydney Morning Herald pada 11 Juli 2003 dalam laporan berjudul “Indonesia Protest US Jet Incursion.”
TNI AU menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian Marsekal Fajar. “Keteladanan, semangat, dan dedikasi beliau akan terus menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga kedaulatan udara Indonesia,” ujar Marsekal Pertama Nyoman. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO