Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Hari ini (4/8) pemerintah meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah secara serentak. Kick-off program CKG sekolah ini akan dilaksanakan di 12 sekolah di sejumlah daerah.
Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan/Presidential Communication Office (PCO) Adita Irawati mengatakan Program CKG Sekolah merupakan implementasi visi Presiden Prabowo Subianto dalam membangun sumber daya manusia unggul. ”CKG Sekolah merupakan investasi jangka panjang di sektor kesehatan bagi anak dan remaja,” kata Adita, Minggu (3/8).
Menurutnya, program ini bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional yang mengedepankan upaya promotif dan preventif. ”Pemerintah ingin memastikan seluruh penduduk Indonesia sehat dan memperoleh akses layanan kesehatan,” kata Adita.
Sejauh ini, sejak diluncurkan pada 10 Februari hingga 1 Agustus, CKG telah menjangkau 16.120.365 orang. Target total penerima manfaat CKG adalah 281 juta penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, 53,8 juta di antaranya adalah anak sekolah. Sebenarnya, CKG Sekolah telah dimulai untuk Sekolah Rakyat pada 14 Juli.
Sebelumnya, Kepala Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi mengatakan Program CKG Sekolah ini adalah upaya pemerintah mengubah pola hidup masya-rakat dalam menjaga kesehatan. Dari kebiasaan datang dalam keadaan sakit, kini didorong untuk datang walaupun dalam keadaan sehat.
”Dalam keadaan sehat sekalipun, masyarakat didorong untuk datang ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan dirinya secara gratis. Untuk mencegah hal-hal buruk di kemudian hari sebelum semuanya terlambat,” kata Hasan.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan dalam CKG kali ini mulai menyentuh aspek kesehatan jiwa. Menurutnya, selama ini kesehatan jiwa sulit terdeteksi. “Ternyata cukup banyak anak yang mengalami kecemasan dan depresi,” ungkapnya.
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto, menyatakan masuknya tes kesehatan kejiwaan pada pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak sekolah adalah langkah maju. Dia me-ngingatkan bahwa program ini tidak boleh berhenti hanya pada tahap deteksi. Menurutnya, deteksi dini harus dibarengi tindakan intervensi selanjutnya.
“Kalau kita hanya fokus pada angka hasil skrining, tanpa memikirkan apa yang terjadi setelah itu, maka program ini akan kehilangan makna. Pemeriksaan kesehatan mental itu tidak cukup hanya mendeteksi, tapi harus ditindaklanjuti dengan intervensi sesuai tingkat keparahannya,” ujarnya.
Sebagai negara yang menargetkan Indonesia emas pada 2045, Edy menegaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jiwa anak tidak bisa ditunda. Anak-anak usia 7 hingga 18 tahun saat ini adalah calon pemegang tongkat estafet bangsa dalam dua dekade ke depan.
“Kita sedang membentuk generasi masa depan. Mereka harus sehat secara fisik dan mental. Jangan sampai kita hanya sibuk membangun infrastruktur fisik, tetapi melupakan ketahanan jiwa generasi penerus bangsa,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG