Buka konten ini

SAN FRANCISCO (BP) – Tanpa membangun menara atau menanam alat seismik, Google berhasil menciptakan jaringan peringatan gempa terbesar di dunia.
Hanya dengan mengandalkan akselerometer di lebih dari dua miliar ponsel Android, perusahaan ini mengubah perangkat konsumen tersebut menjadi sistem deteksi dini yang kini menjangkau hampir seluruh belahan bumi yang rawan gempa.
Menurut laporan Live Science, sistem bernama Android Earthquake Alerts (AEA) itu berhasil mendeteksi lebih dari 11 ribu gempa antara 2021 hingga 2024. Dari jumlah tersebut, 1.279 peringatan telah dikirimkan kepada pengguna di 98 negara, termasuk Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.
“Gempa bumi adalah ancaman konstan bagi komunitas di seluruh dunia. Meski kita semakin mahir memetakan lokasi rawan gempa, dampaknya tetap bisa menghancurkan. Bagaimana jika kita dapat memberi orang beberapa detik peringatan sebelum guncangan dimulai? Detik-detik itu bisa menjadi waktu yang cukup untuk turun dari tangga, menjauh dari benda berbahaya, dan berlindung,” tulis perwakilan Google dalam pernyataannya.
Teknologi ini bekerja dengan mendeteksi gelombang P—gelombang awal yang lebih cepat namun kurang merusak—untuk memprediksi kedatangan gelombang S yang lebih dahsyat.
Data dari ribuan ponsel yang terhubung kemudian diproses untuk memperkirakan lokasi dan kekuatan gempa.
Tantangan Akurasi
Tantangan utama proyek ini adalah akurasi. Sensor pada ponsel jelas tidak setajam seismometer. Namun Google mengandalkan kekuatan jumlah dan algoritme canggih untuk menyaring data yang relevan, sekaligus menyesuaikan dengan kondisi geologis dan struktur bangunan di tiap wilayah.
Dari analisis umpan balik pengguna, 85 persen orang yang mengalami gempa mengaku menerima peringatan, dengan 36 persen mendapatkan notifikasi peringatan sebelum guncangan terjadi.
Hanya tiga dari ribuan peringatan yang terbukti salah, menunjukkan tingkat akurasi yang sangat tinggi untuk sistem berbasis konsumen.
Keterbatasan Algoritma
Meski begitu, sistem ini belum sempurna. Dalam gempa besar seperti yang melanda Turki pada 2023, kekuatannya sempat diremehkan akibat keterbatasan algoritma. Google mengakui kekurangan ini dan terus melakukan pembaruan sistem.
Di tengah kekhawatiran tentang dominasi korporasi dalam urusan publik, Google pun menegaskan bahwa AEA bukanlah pengganti sistem resmi pemerintah.
”Teknologi ini hadir untuk melengkapi, bukan menggantikan,” tulis mereka. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO