Buka konten ini
Serakah menjadi dosa pertama yang mencemari surga ketika Hawa, dan mungkin juga kekasihnya, memakan buah itu bukan karena didorong lapar ”organik”. Sang perempuan pertama tergoda sejenis lapar yang lain.
Lapar keabadian.
Demikianlah peradaban tumbuh dari lapar ke lapar. Ia tak cukup ditaja oleh kebutuhan-kebutuhan dasar manusia. Adaptasi evolusionik spesies kita ternyata melampaui motif sintas belaka. Adibudaya memerlukan kelaparan yang berbeda dengan makhluk hidup lainnya.
Itulah mengapa, bagi manusia, makanan bukan cuma sumber daya. Di samping fungsi primernya, ia menjelma kanal untuk menyalurkan kebutuhan artistik. Jauh sebelum spatula dan wajan berdenting dari ajang chef-chef-an di layar kaca, memasak dan menyajikan makanan telah malih demonstrasi seni. Dalam sejarah adiboga Prancis, misalnya, Richard Bernstein mencatat bahwa memasak dianggap bentuk seni utama saat inovasi kuliner bernilai seperti perkembangan lukisan atau syair, sedangkan hidangan di restoran bermutu adalah jenis teater yang bisa dimakan.
Teater tersebut memang dapat disaksikan pada makan malam Trimalchio, karakter fiksi Petronius Arbiter. Tak hanya memotret realisme kelas sosial Romawi abad pertama, perjamuan Trimalchio menginsafkan kita bahwa perkara menyajikan makanan ternyata tak kurang ajaib ketimbang pertunjukan sulap. Di meja makan OKB bekas budak itu, sebuah menu bisa dihidangkan seakrobatik kuda lumping dengan visualisasi penyajian di luar nurul.
Gastronomi lebai semacam itu bisa jadi merupakan efek revolusi liar dari kegemaran makan dan minum yang kerap menerabas batas biologis. ”Manusia adalah satu-satunya hewan yang minum tanpa rasa haus,” ucap seorang tokoh pada adegan minum-minum anggur di film La Passion de Dodin Bouffant. Seperti kebiasaan nongkrong di kedai kopi berjam-jam sambil menulis sajak dan meresapi luka.
Kita boleh yakin reformasi kuliner masih berusia sedini penemuan cinta romantis yang konon muncul setelah para penyair gandrung menggubah puisi tentang perawan, anggur, dan bulan. Baik tata boga maupun asmara sama-sama lahir dari residu ekspresi estetis untuk meraup kenikmatan esoteris, menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang makna hidup, dan yang lebih penting, mempertegas keunikan manusia di antara organisme lain. Bahkan, psikoanalisis menebus rasa bersalah kita dengan memberi afirmasi yang pahit atas seluruh melankolia nirfaedah terhadap hal-hal banal macam seks dan makanan.
Dalil-dalil Lacan akan menghibur betapa dimensi transenden yang kita bubuhkan pada hidangan merupakan hasrat akan kepenuhan dari kekurangan subjek setelah terperosok di bawah kaki Hukum Ayah. Dengan begitu, rasa lapar di luar manfaat hakiki makanan dilegitimasi oleh dalih bahwa segenap hasrat manusia merupakan bawaan azali yang mustahil dihindari.
Tapi, akumulasi atas pemenuhan rasa lapar yang sembrono rupanya menagih kurban, sebuah hukum alam yang tak mungkin dipunggungi. Kompensasi suram tersebut menggumpal sebagai perubahan iklim dan kemelut ekologis. Ramalan saintifik atas kepunahan keenam yang bakal melanda makhluk hidup tentu bukan tebakan abal-abal.
Dengan gaya percakapan Sokratik, novel Daniel Quinn memberi parabel jitu pada konsekuensi gelap supremasi manusia bahwa zaman modern adalah pesawat terbang yang tengah meluncur ke dinding tebing, melaju ke arah ajalnya sendiri.
Kedatangan maut bisa saja diperlambat. Optimisme inilah yang mungkin menggerakkan sejumlah aliran spiritual untuk mendorong manusia mengekang nafsu, menempuh jalan zuhud dengan tak melempar umpan pada rasa lapar nan menganga. Lukisan Salvador Dali, The Temptation of St Anthony, seperti menyalakan sirene peringatan kepada para pelihatnya bahwa rayuan duniawi acap tampil gagah, megah, menggugah, sekaligus membelit sebagaimana buah yang menjerumuskan Bunda Hawa: merah, matang, brutal. Dan dengan spirit asketisme Santo Antonius yang resistan, kita diharap kuat menghalau bujuk dunia.
Tapi, di sisi lain, agama juga menyodorkan narasi eskatologis yang seakan-akan memproyeksikan watak tamak manusia. Surga yang kita percaya sering kali merupakan pantulan ekstrem rasa lapar di dunia. Nukila Amal secara karikatural menggambarkan situasi kekenyangan di Firdaus dalam cerita pendeknya.
”Akhirat …. Aku curiga cita rasa akhirat akan seperti ini. Kenyang dan bahagia. Di surga kita akan kenyang, terlalu kenyang untuk menginginkan. Buah zaitun dan anggur yang sejangkauan tangan, para bidadari yang duduk bertelekan—terbuang percuma. Sedang Tuhan YME menyaksikan kita, manusia-manusia terkesima, yang bergumam-guman heran, lho, tak kepingin lagi. Maka Tuhan bersabda, kenapa tak dari dulu, wahai manusia.”
”Smokol”, cerita pendek itu, menghadirkan keeksentrikan didaktis yang paradoks. Di sepanjang kisah, ia sesak oleh riuh parade gastronomi tokoh Batara dan kawan-kawannya. Tapi, di tengah-tengah karnaval hedonistik tersebut, ajaran tentang sahaja meluncur dari lidah sang koki. Cerita ini diakhiri pukulan katarsis ketika Batara terkejut menyaksikan berita bocah-bocah kelaparan.
Kesenangan indrawi melalui pergelaran kelezatan aneka hidangan harus direvisi oleh semacam ketenangan Epikurean bahwa kebahagiaan pada dasarnya dicapai manusia setelah ia terbebas dari gangguan. Ataraxia, begitulah filsuf Epikuros menyebut kondisi tanpa iritasi itu.
Rasa lapar adalah lubang hitam yang bisa menelan apa pun. Mungkin benar, sisi dekaden perangai tersebut hanya bisa diredam ketika kita pandai bersyukur dan nrima ing pandum –yang kerap disalahpahami sebagai sikap fatalistik. Juga berani mendefinisikan ulang bahwa kekayaan tidak ditakar dari seberapa gemuk pundi-pundi rekeningmu, tapi seberapa mampu menikmati apa yang kaumiliki. (***)
KARYA : ROYYAN JULIAN
Editor : Alfian Lumban Gaol