Buka konten ini

BINTAN (BP) – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Seri Kuala Lobam siap beroperasi dalam waktu dekat. Dapur ini ditargetkan mampu menyuplai sekitar 4.000 porsi makanan bergizi setiap hari.
Program ini menyasar pelajar dan ibu hamil yang tersebar di satu desa dan dua kelurahan, yakni Desa Teluk Sasah, Kelurahan Tanjungpermai, dan Teluk Lobam.
Ketua Dapur SPPG Seri Kuala Lobam, Nurhidayati, menyebutkan ada 10 sekolah negeri dan swasta yang menjadi sasaran distribusi makanan. Selain itu, ibu hamil dan menyusui juga akan menerima manfaat dari program ini.
”Penyaluran dilakukan setiap hari, dari Senin hingga Jumat,” ujar Nurhidayati, warga Desa Teluk Sasah.
Untuk mendukung operasional dapur, sebanyak 47 tenaga kerja lokal telah direkrut. Termasuk di antaranya dua orang juru masak yang bertugas memproduksi makanan bergizi setiap harinya. Para pekerja dibagi ke dalam tiga sif, dengan sistem upah harian berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.
Sebelum mulai bekerja, para pegawai wajib memasuki ruang loker pada pukul 23.00 WIB untuk mengganti pakaian dan mengenakan perlengkapan kerja seperti celemek, masker, penutup kepala, dan sepatu khusus. Selama proses memasak berlangsung, mereka tidak diperbolehkan mencicipi makanan maupun membawa ponsel. Namun, konsumsi makanan tetap disediakan.
Dapur ini juga diperkuat oleh tiga tenaga pendukung yang direkrut langsung oleh Badan Gizi Nasional (BGN), yakni ketua SPPG, ahli gizi, dan staf administrasi.
Menurut Nurhidayati, pembangunan dapur telah rampung 100 persen. Mereka kini tinggal menunggu kedatangan tiga tenaga kerja dari SPPG yang ditunjuk oleh BGN. ”Begitu mereka datang, kita langsung mulai. Rencananya Agustus ini,” ungkapnya.
Sebelum distribusi dimulai, tim akan mengunjungi sekolah-sekolah di wilayah sasaran untuk memperkenalkan program Makan Bergizi Gratis kepada pihak sekolah dan siswa.
Saat ditanya bagaimana bisa terlibat dalam program ini, Nurhidayati menjelaskan bahwa prosesnya dimulai dari mencari investor yang bersedia mendukung program MBG. Selanjutnya, ia mengajukan permohonan pembentukan SPPG ke BGN melalui Yayasan Gawe Rancange Pasundan. ”Setelah disetujui, kami menerima SK dan dikontrak selama empat tahun,” terangnya.
Dalam program ini, setiap porsi makanan dihargai sekitar Rp15 ribu. Rinciannya, Rp10 ribu untuk makanan dan Rp5 ribu untuk biaya operasional. Dana operasional ditransfer oleh BGN ke pihak SPPG secara berkala, berdasarkan proposal pencairan dana 10 hari ke depan yang diajukan oleh pengelola dapur.
Nurhidayati mengakui ada rasa waswas di awal menjalankan program ini. Namun ia optimistis jika semua prosedur dijalankan sesuai aturan, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
”Motivasi utama kami adalah untuk memberikan asupan gizi yang baik bagi anak-anak sekolah serta ibu hamil dan menyusui di wilayah ini,” tuturnya.
Masmayani, salah satu pekerja dapur yang juga warga Teluk Sasah, menyambut positif keberadaan program ini. Baginya, MBG bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan anak-anak dan ibu hamil, tapi juga membuka peluang kerja baru bagi para ibu rumah tangga. ”Dulu banyak ibu-ibu tidak punya penghasilan. Sekarang, kami bisa bantu ekonomi keluarga,” katanya. (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO