Buka konten ini


Di antara kemeja putih dan meja rapat, Amsakar Achmad disambut kejutan kecil yang menjelma menjadi perayaan batin atas perjalanan panjangnya. Ulang tahun ke-57 bukan sekadar angka, tapi momen hening yang berbicara tentang cinta, pengabdian, dan langkah yang tak pernah lelah mendayung Batam ke arah yang lebih maju dan penuh asa.
“Semoga Tuhan melindungi kamu, serta tercapai semua angan dan cita-citamu…”
Lagu legendaris milik Jamrud itu mengalun lirih, mengiringi pagi yang berbeda di 1 Agustus 2025. Bukan pagi yang mewah. Tidak pula penuh pesta. Tapi pagi itu mengandung hangat yang dalam—penuh kejutan dari dua tempat berbeda bagi sosok yang kini memimpin Kota Batam.
Tepat di usia ke-57, Amsakar Achmad mendapat kejutan manis. Tak hanya dari kantor tempatnya memimpin roda pemerintahan, tapi juga dari rumah—tempat semua perjalanan itu bermula.
Di kediaman pribadinya, istri tercinta sekaligus Ketua TP-PKK Kota Batam, Erlita Amsakar, menyambut hari itu dengan cara yang sederhana namun penuh makna. Ia menyiapkan kejutan ulang tahun perdana sang suami sebagai Wali Kota Batam-momen spesial yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini adalah ulang tahun pertama Bapak sejak menjabat sebagai Wali Kota Batam. Setelah bertahun-tahun menjadi wakil, sekarang beliau memimpin langsung. Tentu sangat istimewa,” ujar Erlita dengan mata berbinar.
Dalam suasana hangat yang hanya disaksikan keluarga dekat, Erlita membacakan puisi khusus yang ia tulis sendiri. Bukan sekadar untaian kata, tapi ungkapan cinta dan syukur. Ia juga memanjatkan doa agar sang suami senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk memimpin kota yang terus tumbuh dan menantang.
“Mudah-mudahan selalu diberikan keberkahan dalam memimpin Batam,” katanya lirih.
Sementara itu, di Kantor Wali Kota Batam, suasana tak kalah hangat. Amsakar datang seperti biasa dengan kemeja putih rapi, senyum khas yang tak pernah absen. Tapi langkahnya terhenti saat membuka pintu ruangannya.
Yang biasanya berisi rapat dan dokumen, pagi itu berubah menjadi ruang kejutan. Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para pejabat Pemko Batam bersama staf ASN, sudah berdiri rapi, menyambut dengan tepuk tangan dan ucapan selamat.
Amsakar sempat berdiri mematung, lalu tersenyum lebar. Tangannya terangkat memberi salam. Tak ada protokoler, tak ada formalitas. Hanya kejutan tulus dari orang-orang yang selama ini ikut membangun Batam bersamanya.
“Terima kasih atas perhatian dan doa semuanya. Saya sungguh bahagia dan terharu. Mohon doanya, semoga di usia ini saya bisa terus memberi manfaat,” ucapnya.
Satu per satu ucapan mengalir. Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, turut menyampaikan doa singkat namun sarat makna. “Selamat ulang tahun ke-57 kepada Bapak Wali Kota. Semoga selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan.”
Wakil Komandan Lantamal IV, Kolonel Laut Ketut Budiantara, mewakili Forkopimda menyampaikan penghargaan atas kepemimpinan Amsakar yang dinilai terbuka terhadap kolaborasi lintas institusi. “Semoga terus diberikan semangat dalam membangun Batam yang lebih baik.”
Kue sederhana dikeluarkan. Sebatang lilin kecil menyala. “Tiup, Pak Wali,” celetuk salah satu staf. Amsakar pun meniupnya pelan. Sebuah gestur kecil yang sarat makna. Karena ulang tahun ini bukan sekadar pertambahan usia, tapi pengingat bahwa kepemimpinan juga soal kebersamaan.
Seorang staf muda bercerita, Amsakar sering datang lebih awal dari waktu kerja. Kadang menyapa petugas kebersihan. Kadang duduk di taman kantor sambil menulis di buku kecil. “Saya belajar banyak dari beliau, terutama tentang kesederhanaan,” ujarnya.
Dan Amsakar sendiri mengakui, bahwa dalam setiap perjalanan, selalu ada yang menjadi sumber kekuatan: keluarga, sahabat, rekan kerja, dan mereka yang diam-diam mendoakan.
“Alhamdulillah, ketika kami lelah, selalu ada yang memberi semangat. Doakan agar amanah ini bisa kami jalankan sebaik mungkin,” tuturnya haru.
Kini, di usia ke-57, Amsakar tidak sekadar menatap ke belakang. Ia menatap ke depan, ke arah tantangan baru, proyek-proyek yang menanti, dan harapan masyarakat yang terus tumbuh. Tapi hari itu, ia menepi sejenak—mengizinkan dirinya tersentuh, tersenyum, dan dikejutkan oleh cinta dari dua sisi hidupnya: rumah dan ruang kerja.
Karena seorang pemimpin sejati, adalah ia yang tak lupa bersyukur. Yang tahu bahwa kekuasaan bukan tempat tinggal abadi, melainkan ladang pengabdian.
Dan ulang tahun ke-57 ini, bukan akhir, tapi kayuhan baru dalam layar panjang pengabdiannya untuk Batam. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK