Buka konten ini

Esha Tegar Putra tak menulis narasi besar dalam Hantu Padang, melainkan hal-hal kecil yang intim. Perantauan yang melatari Hantu Padang tak sama maknanya dengan perantauan khas orang Minang pada umumnya.
Aku jadi ingat kamu pada sebuah malam
di mana bulan bulat
seakan menggantung dari arah langit
Belantung dan kita cerita tentang
hantu-hantu Padang
SEBAGAIMANA tersirat dalam penggalan puisi ”15” di atas, dalam Hantu Padang, buku di mana puisi tersebut termaktub, Esha Tegar Putra memuisikan tegangan antara memori tanah asal dengan kehidupan kota rantau. Bisa dimaknai literal, bisa juga metaforis.
”Itulah pula yang kemudian menjadikan buku ini menarik dan utuh,” sebut Asep Subhan KM, salah seorang juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2025, kepada Padang Ekspres (grup Batam Pos), Kamis (3/7), tiga pekan lalu.
Hantu Padang yang lahir pada rentang 2015 sampai 2023 ketika Esha melakukan perantauan ulang-alik Padang-Jakarta itu akhirnya terpilih sebagai pemenang kategori puisi penghargaan sastra tahunan bergengsi tersebut. Kualitas masing-masing puisi di dalamnya dinilai merata.
Tidak turun naik, puisi satu bagus tapi puisi lain biasa. Puisi-puisi di dalamnya juga saling bertaut menyusun satu tema besar secara konsisten tanpa mengurangi potensi masing-masing puisi untuk dinikmati secara mandiri.

Berawal dari Peristiwa Kecil
Esha yang lahir di Solok, Sumatra Barat, pada 29 April 1985 memang gemar menulis lanskap kota dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Sedangkan perantauan ulang-alik dalam Hantu Padang sama sekali berbeda dengan konsep rantau orang Minangkabau.
Penyair yang pernah menjadi wartawan itu tidak dapat menentukan dengan pasti kapan berada di Padang, Sumatra Barat, dan kapan berada di Jakarta. Tubuhnya di satu kota, tapi pikiran terbelah antara dua kota.
”Tidak hanya dalam puisi sebenarnya, tarik-menarik ini saya alami langsung. Ketika berjalan di Jakarta, misalnya, pikiran saya secara spontan langsung membandingkan sesuatu dengan Padang ketika melihat sesuatu. Begitu juga sebaliknya ketika saya berada di Padang,” kata alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, tersebut.
Puisi-puisi dalam Hantu Padang tak mengangkat tema-tema besar. Peristiwa keseharian begitu kuat memengaruhinya.
Karya-karya penulis buku puisi Pinangan Orang Ladang (2009) dan Dalam Lipatan Kain (2015) itu berawal dari peristiwa terkecil dan hal-hal paling intim dan dekat. Seperti menulis peristiwa anaknya sakit, sementara ia tidak ada di sampingnya.
Atau bagaimana dia menulis debu-debu turun dari plafon rumah, suara kipas angin kamar tidur, paku di belakang pintu, selimut sobek, meja kerjanya. Atau juga suara lambung siang hari ketika sarapan dirapel makan siang.
”Saya percaya satu di antara sekian pengalaman personal yang tidak berada dalam narasi besar itu mungkin pernah dirasakan oleh orang-orang (pembaca),” jelasnya.
Bukan Penanda Keberurutan
Tidak ada judul lain dalam kumpulan puisi ini, hanya Hantu Padang, mulai dari 0 sampai 38. Nomor-nomor tersebut bukan pula penanda keberurutan penulisannya.
Puisi nomor 38, misalnya, lebih dulu ditulis daripada puisi nomor 24. Bahkan puisi 0 adalah yang terakhir ia tulis dan masukkan dalam draf. ”Saya tidak memaksakan puisi-puisi tersebut hadir. Peristiwa-peristiwa puisi mengalir seiring perjalanan rantau ulang-alik saya,” ucapnya.
Bagi Esha, kemenangan di KSK 2025 hadiah kesabaran berproses buat ia dan keluarga. Ini kali keempat buku puisinya masuk penilaian Kusala Sastra Khatulistiwa.
Dalam Lipatan Kain masuk sampai daftar pendek tahun 2015, Sarinah hanya sampai daftar panjang tahun 2016, dan Setelah Gelanggang Itu sampai daftar pendek 2020. Pada kesempatan keempat, Hantu Padang akhirnya mendapatkan penghargaan.
”Meskipun bukan penghargaan yang menjadi penentu proses saya berkarya selama ini, tetapi penghargaan tentunya akan mengantarkan hal-hal baik pada saya dan penerbit. Setidaknya buku Hantu Padang akan dibaca lebih banyak orang,” katanya tentang buku yang diterbitkan JBS itu.
Sebagai pemenang KSK 2025, buku Hantu Padang akan dibeli sebanyak Rp 25 juta oleh Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia sebagai penyelenggara KSK 2025. Buku-buku itu akan dibagi-bagi gratis. Esha sebagai pemenang diganjar hadiah Rp75 juta.
Kini ia sudah menyiapkan satu draf buku puisi untuk diterbitkan yang dikumpulkan sejak tahun lalu. Draf buku puisi itu, sejauh ini, dibagi menjadi tiga bagian dan berangkat dari tiga lanskap sangat berbeda. Bagian pertama terdiri atas puisi-puisi yang ia tulis ketika residensi ke Bosnia-Herzegovina pada 2018. Bagian kedua tentang Palestina.
”Tiap hari berita pembantaian dan penghancuran sampai pada ponsel saya. Saya yakin tidak akan mewakili pengalaman orang-orang di sana, tetapi saya tidak bisa tidak untuk menulis. Bagian terakhir, tentang Jakarta, Depok, ruang baru yang saya pilih sebagai tempat mengakhiri perantauan ulang-alik,” katanya. (***)
Reporter : GANDA CIPTA
Editor : RYAN AGUNG