Buka konten ini
BANGKOK (BP) – Selasa (29/7), Militer Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata yang baru saja berlaku. Padahal kedua negara baru menyetujui gencatan senjata yang dicapai dalam perundingan Malaysia pada Senin (28/7).
Kesepakatan menyatakan bahwa gencatan senjata dimulai pada tengah malam. Dilansir dari AFP, juru bicara militer Thailand Winthai Suwaree mengatakan bahwa pasukan Kamboja justru melakukan serangan bersenjata ke beberapa wilayah Thailand.
“Ini merupakan pelanggaran yang disengaja terhadap kesepakatan dan upaya nyata untuk merusak keperca-yaan bersama,” ujarnya. Karena merasa diserang, menurutnya Thailand memiliki hak untuk merespons dengan pembelaan diri.
Namun, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, membantah klaim tersebut. “Tidak ada bentrokan bersenjata di wilayah mana pun,” katanya. Meski terjadi saling tuduh, kedua negara menyatakan bahwa pertemuan antara para komandan militer regional yang telah dijadwalkan sebagai bagian dari implementasi gencatan senjata tetap berlangsung atau segera dimulai.
Di lapangan, di kota Samraong, Kamboja atau 20 kilometer dari perbatasan, ada suara ledakan. Ledakan ini berhenti 30 menit sebelum tengah malam dan situasi tetap tenang hingga pagi hari. Kondisi itu sejalan dengan pernyataan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet. Hun menyatakan melalui pesan di Facebook bahwa garis depan telah mereda sejak gencatan senjata pukul 12 malam.
Kesepakatan gencatan senjata ini difasilitasi oleh Malaysia dan didukung oleh Tiongkok serta Amerika Serikat. Dalam pernyataan bersama, ketiga negara menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah awal penting menuju deeskalasi dan pemulihan perdamaian serta keamanan.
Usai mendamaikan Thailand dan Kamboja, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim melakukan lawatan ke Indonesia. Anwar sampai di Indonesia pada Senin malam. Kemarin, Presiden Prabowo Subianto menyambut Anwar dan melakukan pertemuan kenegaraan di Komplek Istana Negara.
Prabowo memberikan apresiasi atas kepemimpinan Anwar dalam memimpin ASEAN, khususnya keberhasilan Malaysia dalam melakukan mediasi terhadap konflik di kawasan. “Bapak berhasil dalam mediasi, berhasil mencapai gencatan senjata dalam konflik antara Thailand sama Kamboja. Ini suatu yang patut kita syukuri,” ujarnya.
Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia siap memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil Malaysia sebagai Ketua ASEAN. Menurutnya, capaian tersebut merupakan terobosan penting untuk menjaga stabilitas kawasan.” Kita ingin ASEAN selalu menyelesaikan konflik dengan damai, dengan konsultasi, musyawarah, negosiasi,” ujar Prabowo.
Anwar pun menyoroti pentingnya kerja sama negara-negara Asia Tenggara dalam menjaga keamanan regional. Menurutnya, stabilitas kawasan adalah tanggung jawab bersama. “Dan sekarang ini dalam memonitoring keamanan ini, negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, dan Filipina, itu akan bertanggungjawab dalam memonitoring peace process ini” ungkapnya.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menekankan bahwa Indonesia aktif berkomunikasi dengan Malaysia sebagai Ketua ASEAN untuk mendorong langkah deeskalasi Thailand vs Kamboja. “Sejak insiden hari pertama, para menteri luar negeri ASEAN sudah saling berkoordinasi mencoba untuk menyampaikan kepada kedua belah pihak untuk sama-sama menahan diri,” ujarnya.
Dia juga menyatakan bahwa Indonesia juga pada saat itu sudah menyampaikan kepada Ketua ASEAN siap untuk melakukan apa saja dalam rangka mencapai deeskalasi. “Antara Kamboja dan Thailand itu ada yang namanya Joint Border Committee yang akan ditugaskan untuk membahas urusan perbatasan ini. Tapi kita juga menyampaikan bahwa ASEAN semuanya ada dalam suatu keyakinan yang sama bahwa kita ingin menyelesaikan ini dengan cara kekeluargaan dan dengan cara ASEAN,” imbuhnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG