Buka konten ini

Para “santri” di Griya Lansia Khusnul Khotimah sebagian besar berasal dari jalanan yang tidak punya sanak saudara. Kepada keluarga yang hendak menitipkan orang tua dikenakan syarat berat sebagai negosiasi tersirat agar mereka memikirkan ulang rencana tersebut.
TIAP tamu yang datang adalah setangkup kegembiraan bagi Kartining, penghuni paling sepuh Griya Lansia Khusnul Khotimah, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia seperti memiliki keluarga kembali.
“Doakan Mbah ya, Mas. Mbah sudah tidak punya anak yang doain,” katanya kepada Radar Malang (grup Batam Pos) yang berkunjung pada Minggu (20/7), sebagaimana permintaan yang juga disampaikan nenek 85 tahun itu kepada tamu-tamu lain.
Perempuan asal Jombang, Jawa Timur, itu sebenarnya memiliki empat anak, tapi kini semua sudah meninggal. Dulu, sepeninggal sang suami, dia membesarkan keempat buah hatinya sendirian. Tapi, di usia senjanya dia harus menerima kenyataan pahit: terusir dari rumah karena salah seorang anaknya menjualnya tanpa sepengetahuannya.
Sempat terlunta-lunta, kondisi Kartining akhirnya terpantau relawan kemanusiaan di Jombang pada 2022. Mereka lantas melaporkannya kepada Komunitas Yayasan Yatim Duafa, komunitas yang menjadi inisiator berdirinya Griya Lansia Khusnul Khotimah di Dusun Baran, Desa Wajak, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.
Kini semua kebutuhan hariannya terpenuhi, termasuk keluarga baru berupa teman-temannya di griya lansia berkonsep pesantren dan para tamu yang berkunjung.
“Saya hanya fokus ibadah dan ngaji,” katanya.
Lansia Terlantar
Griya Lansia Khusnul Khotimah, yang berdiri sejak 2020, berfokus kepada lansia berumur di atas 65 tahun yang terlantar dan tak memiliki keluarga. Tidak hanya jasmani mereka yang diperhatikan, tapi juga sisi kerohanian.
Saat ini ada lebih dari 200 lansia yang hidup di bangunan seluas hampir setengah hektare itu. Mereka sebagian besar berasal dari Jawa Timur. Datang dengan berbagai latar belakang dan kepribadian, namun memiliki kisah yang kurang lebih sama.
Sebagian besar dari para lansia di sana mengaku sudah tidak punya atau bahkan tak mengenal keluarga mereka. Belum lama berselang, sebuah video penjemputan seorang lansia asal Surabaya juga ramai menjadi sorotan karena sang nenek disebut tak dikehendaki keempat anaknya.
“Kami mengambil konsep pesantren, sejak sebelum Subuh kami sudah ajak para lansia untuk aktivitas ibadah,” kata Mufakhiroh atau biasa disapa Mufi, penanggung jawab medis dan keperawatan Griya Lansia.
Satu jam sebelum Subuh, para “santri” lansia diajak untuk persiapan salat berjamaah. Sehabis salat, para lansia lalu diajak tadarus bersama. Para lansia, kata Mufi, setidaknya sudah hafal surah-surah pendek Al-Qur’an. Setelah itu, kegiatan berupa ta’lim juga tak dilupakan.
Mufi menjelaskan, pembangunan Griya Lansia berasal dari hasil keikhlasan teman-teman Komunitas Yayasan Yatim Duafa milik Arief Chamra. Griya tersebut berfokus kepada lansia-lansia terlantar yang tidak memiliki keluarga.
“Tapi tak sedikit, ada keluarga yang datang membawa orang tuanya ke sini,” kata Mufi.
Pihaknya punya syarat mutlak untuk lansia yang memiliki keluarga. Di antaranya, 100 persen pengasuhan berada di tangan griya. “Tidak boleh dijenguk, tidak dikabari bila meninggal, pemakaman kami yang urus,” jelas Mufi.
Syarat-syarat itu, tambahnya, sebenarnya merupakan negosiasi tersirat agar keluarga memikirkan kembali menaruh orang tua mereka. Sebab, griya lansia sejatinya tempat perawatan lansia terlantar, bukan tempat penitipan.
Sebagian besar lansia yang ditelantarkan keluarga berawal dari dua penyebab umum: persoalan ekonomi dan masalah keluarga. Namun, biasanya masalah keluarga selalu menjadi alasan utama. “Tidak sanggup merawat, tidak ada waktu, takut tidak merawat dengan baik, itu alasan yang sering ditemukan,” jelas Mufi, seraya menitikkan air mata.
Dana Operasional
Keberadaan dan operasional griya semuanya berasal dari swasta dan wakaf, baik dari anggota komunitas maupun dari perusahaan. Bahkan, lebih dari 50 persen bangunan di sana merupakan wakaf dari perusahaan maupun perkumpulan jamaah.
Menurut Mufi, griya ini menjadi tempat pelajaran hidup: tentang ikhlas dan bersyukur. “Itu dua hal yang selalu saya tanamkan kepada para relawan yang turut membantu dan para tamu yang berkunjung,” katanya. (***)
Reporter : Akhmad Riyadh Masyhadi
Editor : RYAN AGUNG