


Ragam peristiwa ini mewarnai dinamika Kota Batam sepanjang sepekan terakhir. Kabut asap tipis selimuti Batam, harga bawang melonjak dan ribuan pelajar menjalani pemeriksaan kesehatan gratis (PKG).
Kabut asap tipis mulai terlihat di beberapa titik di Kota Batam sejak Rabu (23/7) pagi hingga sore, namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam memastikan bahwa kondisi tersebut belum disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau.
Berdasarkan data dari stasiun pemantauan udara DLH di Gedung Labling Sagulung, kualitas udara Batam pada Rabu (23/7) masih berada pada kategori sedang. Nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat di angka 59 dengan parameter kritis PM2.5 pada pukul 15.00 WIB.
Kepala Bidang Perlindungan Lingkungan Hidup DLH Kota Batam, IP, mengatakan bahwa arah dan kecepatan angin lokal lebih dominan memengaruhi kualitas udara di Batam, terutama akibat aktivitas pembakaran sampah oleh warga. “Untuk saat ini belum ada dampak dari karhutla di Riau,” ujarnya.
Di hari yang sama, Pemerintah Kota melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus menggencarkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) untuk siswa di semua jenjang pendidikan. Program ini menyasar sekitar 200 ribu pelajar aktif dari tingkat SD hingga SMA sederajat.
Kepala Dinkes Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan program ini merupakan bagian dari langkah promotif dan preventif untuk meningkatkan derajat kesehatan siswa, sekaligus mendukung misi prioritas Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam memperkuat layanan kesehatan dasar dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
”Di Batam, program ini sudah kami mulai sejak Juli, dan menyasar seluruh siswa aktif,” ujar Didi, Kamis (24/7). Di wilayah kerja Puskesmas Tanjungbuntung, pelaksanaan PKG pada Kamis lalu dilakukan di dua sekolah, yaitu SD Batam International Islamic School (BIIS) dan SD Negeri 010 Tanjungbuntung.
Sementara itu, harga kebutuhan pokok di Batam kembali melonjak tajam dalam dua hari terakhir. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas sayur dan bumbu dapur di sejumlah pasar tradisional. Harga bawang merah asal Jawa misalnya, sempat menyentuh Rp70 ribu per kilogram. Jika dibeli secara eceran, harganya bisa mencapai Rp8 ribu per ons.
Kenaikan ini dinilai tak masuk akal karena dalam beberapa tahun terakhir harga bawang di Batam jarang menembus angka Rp60 ribu per kilogram. Kondisi ini mulai dikeluhkan warga, terutama ibu rumah tangga, karena berdampak langsung pada pengeluaran harian.
Musibah kebakaran rumah juga terjadi pada Kamis (24/7). Petugas pemadam kebakaran bersama warga berusaha memadamkan api yang membakar rumah liar di dekat SMPN 41 Batam seberang kantor Camat Lubukbaja. (***)
Reporter : TIM BATAM POS
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI