Buka konten ini
Nyaris seminggu para murid Sekolah Rakyat berada di asrama. Rasanya campur aduk, kata mereka. Seru, degdegan, hingga rindu ingin pulang, dirasakan oleh sebagian para peserta didik.
JAKARTA masih gelap gulita. Ayam jago juga belum terdengar berkokok. Namun, asrama Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Margaguna, Jakarta Selatan sudah ramai pada Jumat (18/7) pagi itu. Wali asrama ditemani wali asuh mulai berjalan keliling asrama, menggedor kamar para ketua kelas untuk kemudian membantunya membangunkan seluruh penghuni di sana.
Ada dua asrama, putra dan putri, yang menampung 100 anak dari kelurga miskin dan miskin ekstrem yang ada di sekitar wilayah Jakarta Selatan. Mereka ditempatkan masing-masing 3-4 anak per kamar.
Kegiatan di asrama dimulai pukul 04.00 WIB. Semua penghuni harus bangun untuk persiapan salat subuh berjemaah di masjid. Sebelumnya, mereka wajib membersihkan tempat tidur dan kamar.
Pendidikan karakter dan kedisiplinan benar-benar diterapkan sejak hari pertama mereka tinggal di sana.
Fathan Sawayudhitama, 17, tampak masih mengumpulkan ”nyawa” di atas tempat tidurnya. Bangun subuh diakuinya paling sulit dilakoni ketika di asrama. “Kan ini kan baru ya, dibilangnya sih sebenarnya susah. Cuma karena namanya juga sekolah, jadi emang harus diubah lagi,” ungkapnya.
Menurut dia, tinggal di asrama sejauh ini cukup seru. Meski hari pertama sempat membosankan. Maklum, belum ada orang yang dikenalnya. Bahkan di dalam kamar pada sungkan dan diem-dieman. ”Makin lama makin ya lumayan sih seminggu ini. Asik juga, lumayan,” kata anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.
Meski baru seminggu, banyak pembelajaran yang diterimanya. Mulai dari kedisiplinan, pendidikan soal agama, narkoba, hingga soal bullying.
Anak dari pasangan Slamet Husayri, 50, dan Ari Windarti, 40, ini sempat berhenti sekolah satu tahun terakhir. Dia terpaksa keluar karena harus membantu sang ayah bekerja menjadi montir. Tahun lalu, sang ayah tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung.
Sebelumnya, Slamet divonis diabetes sehingga badannya pun sudah tak mampu lagi bekerja keras. “Makanya aku mending lebih bantuin bapak daripada main,” ungkapnya.
Meski begitu, dalam hatinya, keinginan untuk bersekolah masih sangat kuat. Hingga tawaran untuk masuk Sekolah Rakyat tiba. Tanpa pikir panjang, dia mengiyakan meski harus berpisah dengan keluarganya. Dia juga memberanikan diri untuk meminta bantuan pada kakaknya untuk bisa menjaga sang bapak.
“Pasti berat banget. Cuma kan karena kepinginannya aku, pengen sukses tanpa nyusahin orangtua. Jadi harus kuat,” ungkapnya.
Beda lagi dengan Nur Aisah, 16. Jika di awal-awal dirinya penuh semangat, justru dirinya kini serasa ingin pulang. Hal ini lantaran dirinya tengah tak enak badan. “Tadinya senang-senang aja, terus jadi kayak pengen pulang. Kangen ibu,” katanya.
Ais, panggilannya, sudah tidak punya ayah. Hanya ada sang ibu yang hari-hari bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Keterbatasan biaya nyaris membuat dirinya tak bisa melanjutkan sekolah. Hingga akhirnya, ada tawaran masuk sekolah rakyat ini. “Biar gak nyusahin ibu,” ungkap siswi yang bercita-cita menjadi pelukis dan dokter ini.
Bukan hanya para murid yang masih harus beradaptasi dengan lingkungan asrama. Para wali asuh dan wali asrama pun harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
Frederick Yogi Hulu, 34, salah satu Wali Asuh di asrama laki-laki ini mengaku mesti beradaptasi kembali. Tapi, hal ini tak membuat dia jalan lambat untuk bisa membersamai 10 anak asuhnya di asrama.
Yogi, sapaannya, sudah membuat grup khusus di aplikasi pesan bersama 10 anak asuhnya dan grup lainnya dengan para orangtua mereka. Grup dengan orangtua ini untuk membantu mereka meng-update kondisi dan mengetahui kegiatan anaknya selama di asrama seperti apa.
Yogi yang memiliki background sebagai pekerja sosial (peksos) selama belasan tahun mengaku tak ada kesulitan berarti dalam mengasuh anak-anak Sekolah Rakyat sejauh ini. Menurutnya, tak ada kenakalan-kenakalan berat yang ditunjukkan anak-anak di asrama.
“Paling ngeluh-ngeluh biasa ya. Mungkin yang dulunya di rumah bebas, sekarang mereka harus mengikuti salat lima waktu, kegiatan begitu panjang, apalagi jam sembilan harus tidur. Nah, di situlah kita sebagai wali asuh untuk mendampingi dan mendisiplinkan mereka,” jelasnya.
Yogi yang dulunya terbiasa menangani anak-anak kecanduan narkoba atau bermasalah lainnya pun sudah memiliki metode-metode khusus untuk menghadapi anak-anak remaja ini. Dia paham bagaimana harus bertindak tanpa harus marah-marah ketika anak-anak malas-malasan.
“Selain itu, kita ada FGD tiap malem sebelum tidur,” paparnya. Dalam FGD tersebut, anak-anak diberikan waktu untuk mengutarakan isi hatinya. Dari sana, biasanya ia akan memetakan, tindakan apa yang harus dijalankan untuk membantu masing-masing anak tersebut.
“Percayalah, lebih susah jadi pendamping PKH yang ngurus 600 ibu-ibu,” candanya.
Senada, Prima Aldi Juniarto, 31, salah seorang wali asuh juga mengatakan hal yang sama. Baginya, sejauh ini belum ada kendala-kendala berarti dalam menjalankan tugasnya.
Kalaupun ada tindakan-tindakan tidak disiplin, ia pun masih memaklumi. Mengingat, anak-anak ini banyak yang sebelumnya “hidup bebas” di jalanan. yang artinya masih banyak yang belum paham dan mengerti mengenai aturan. (***)
Reporter: Zalzilatul Hikmia
Editor: Alfian Lumban Gaol