Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pemerintah secara resmi sudah menjalankan bursa karbon pada pertengahan Januari lalu. Jika dibandingkan dengan bursa karbon di Eropa, harga kredit karbon di Indonesia jauh lebih murah. Namun sampai sekarang transaksi pembelian karbon di bursa karbon Indonesia belum ramai.
Kondisi transaksi karbon tersebut dikupas dalam diskusi yang diselenggarakan Indonesia Bussiness Council (IBC) di Jakarta pada Kamis (24/7). Praktisi pasar karbon Paul Butar Butar mengatakan transaksi karbon bisa dimana saja. Bursa Karbon yang diresmikan pemerintah itu, hanya salah satu tempat perdagangan karbon.
”Yang terjual di sana (Bursa Karbon Indonesia) belum sampai dua juta (sertifikat pengurangan emisi/SPE),” kata Paul.
Angka penjualan kredit karbon yang belum sampai 2 juta lembar SPE itu, dinilai belum signifikan. Paul mengatakan transaksi kredit karbon di Bursa Karbon milik Indonesia belum atraktif.
Menurut Paul ada banyak tantangan yang dihadapi dalam perdagangan karbon. Faktor utama adalag kualitas kredit karbonnya itu sendiri. Jika ekosistem perdagangan karbon di Indonesia bisa menghadirkan kredit karbon dengan kualitas dan integritas tinggi, maka pembelinya meningkat.
Selain itu ekosistem perdagangan karbon di Indonesia harus bisa membuat pasar atau demand lebih bergairah. Lalu program penanganan emisi gas rumah kaca harus berkualitas. Sehingga kredit karbon yang diperdagangkan benar-benar berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dalam kesempatan yang sama Chief Operating Officer (COO) IBC William Sabandar mengatakan harga kredit karbon di Indonesia saat ini jauh lebih murah dibandingkan di pasar karbon Eropa. William mengatakan di Eropa, kredit karbon dijual di kisaran USD 50 sampai USD 80 per lembar SPE. Sedangkan di Indonesia masih di angka USD 2 per lembar SPE.
Seharunya bursa karbon di Indonesia bisa menarik pasar dunia. Apalagi perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia berkomitmen mengurangi emisi karbon dengan cara membeli kredit karbon.
Seperti diketahui kredit karbon adalah nilai yang dihasilkan dari sebuah aktivitas atau program menjaga lingkungan. Misalnya penanaman mangrove, pengolahan energi ramah lingkungan, dan lainnya. Nilai dari aktivitas ini berupa kredit karbon. Selanjutnya kredit karbon dibeli perusahaan yang menghasilkan emisi karbon atau emisi gas rumah kaca. Sehingga dengan membeli kredit karbon, bisa dihitung sebagai pengurangan emisi karbon yang dihasilkan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO