Buka konten ini

2. Tentara Kamboja mengisi ulang peluncur roket ganda BM-21 di Provinsi Preah Vihear, Kamis (24/7). F. AFP
3. Tangkapan layar dari rekaman video UGC yang diambil dan diunggah di Facebook oleh Chatchak Ratsamikaeo, Kamis (24/7), menunjukkan asap mengepul dari atap sebuah toko swalayan yang terhubung dengan sebuah SPBU di Provinsi Sisaket, Thailand, setelah terkena serangan roket dari Kamboja. F. milik pengguna Facebook Chatchak Ratsamikaeo/AFP
BANGKOK (BP) – Ketegangan lama di perbatasan Thailand dan Kamboja meledak menjadi konflik bersenjata terbuka setelah militer Thailand melancarkan serangan udara ke wilayah Kamboja pada Kamis (24/7). Langkah ini diambil setelah Kamboja disebut menembakkan artileri berat dan roket jarak jauh ke arah wilayah Thailand, yang menewaskan sembilan warga sipil, termasuk seorang anak berusia 9 tahun.
Dalam pernyataan resmi, militer Thailand mengungkapkan bahwa serangan udara tersebut dilakukan oleh salah satu dari enam jet tempur F-16 yang telah disiagakan di wilayah konflik.
”Kami telah menggunakan kekuatan udara terhadap sasaran militer sebagaimana yang telah direncanakan,” kata Wakil Juru Bicara Angkatan Darat Thailand, Richa Suksuwanon, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis (24/7).
Bentrokan terbaru terjadi di sekitar kawasan Kuil Ta Moan Thom yang terletak di Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja—wilayah yang selama ini dipersengketakan oleh kedua negara. Baik Thailand maupun Kamboja saling menyalahkan atas eskalasi terbaru. Militer Thailand menyebut pasukan Kamboja lebih dulu menerbangkan drone pengin-tai sebelum menembakkan artileri dan roket BM-21 ke arah wilayah Thailand.
Laksamana Muda Surasant Kongsiri dari militer Thailand menyatakan bahwa pertempuran terjadi di sedikitnya enam titik. Akibatnya, seluruh pos lintas batas antara kedua negara ditutup sementara.
Di Provinsi Surin, Kepala Distrik Kabcheing, Sutthirot Charoenthanasak, menyebut bahwa dua warga tewas akibat peluru artileri Kamboja yang menghantam rumah mereka. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang telah mengevakuasi sekitar 40.000 penduduk dari 86 desa yang terletak di dekat perbatasan.
Pemerintah Thailand juga menuduh Kamboja menargetkan fasilitas sipil, termasuk sebuah rumah sakit. Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Thailand disebutkan,
Thailand siap memperkuat langkah-langkah pertahanan diri jika Kamboja terus melakukan serangan bersenjata dan pelanggaran terhadap kedaulatan Thailand, sesuai hukum dan prinsip internasional.”
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja mengecam keras serangan udara Thailand. Mereka mengklaim dua bom dijatuhkan di sebuah jalan yang mereka sebut sebagai ”agresi militer brutal dan sembrono terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Kamboja.” Pihak Kamboja juga menyebut bahwa pasukannya hanya membalas tembakan setelah lebih dulu diserang oleh militer Thailand.
Mantan Perdana Menteri Kamboja yang berpengaruh, Hun Sen, turut angkat suara. Lewat unggahan di media sosial, ia mengatakan bahwa militer Thailand telah menembaki dua provinsi Kamboja, yaitu Oddar Meanchey dan Preah Vihear.
”Tentara Kamboja tidak punya pilihan selain melawan dan melakukan serangan balasan,” tulis Hun Sen, sembari menyerukan masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian bahan makanan secara panik.
Reporter Al Jazeera, Tony Cheng, melaporkan dari Koh Lanta, Thailand bagian selatan, bahwa ”sengketa ini sudah lama membara, namun tampaknya benar-benar meledak hari ini.”
Ia menambahkan, ”Pagi ini terjadi bentrokan antara dua militer. Thailand menyebut Kamboja menembak lebih dulu, sementara Kamboja menuduh pasukan Thailand menyelinap ke wilayah mereka dan mulai memotong kawat berduri.”
Situasi ini juga memicu penurunan drastis hubungan diplomatik kedua negara. Thailand telah memanggil pulang duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir duta besar Kamboja dari Bangkok. Partai penguasa Pheu Thai menyebut bahwa hubungan diplomatik dengan Kamboja telah diturunkan.
Sebagai respons, pemerintah Kamboja menarik seluruh diplomatnya dari Thailand dan memerintahkan seluruh diplomat Thailand meninggalkan negaranya. Hubungan diplomatik kedua negara kini diturunkan ke tingkat paling rendah, yakni hanya menyisakan staf diplomatik berstatus “sekretaris kedua”—tingkatan rendah dalam hierarki kedutaan yang umumnya tidak memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan atau negosiasi resmi, menurut laporan Phnom Penh Post.
Ketegangan ini juga diperburuk oleh insiden ledakan ranjau yang menewaskan satu tentara Thailand dan melukai tiga lainnya dalam patroli di perbatasan. Thailand menyalahkan Kamboja atas ranjau tersebut, namun Phnom Penh membantah dengan menyatakan bahwa tentara Thailand menyimpang dari jalur yang telah disepakati dan memicu ranjau lama peninggalan perang saudara.
Sengketa perbatasan sepanjang 817 km antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung selama lebih dari satu abad. Meski berbagai perjanjian telah dicoba untuk meredakan ketegangan, insiden militer dan tindakan saling balas, termasuk penutupan perbatasan serta larangan ekspor barang dari Thailand ke Kamboja, terus terjadi.
Kini, dengan korban sipil yang terus bertambah dan militer kedua negara dalam posisi siaga penuh, kawasan Asia Tenggara menghadapi salah satu krisis terburuk dalam hubungan bilateral antarnegara tetangga dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG