Buka konten ini

Setiap pagi di Air Asuk, sebuah perkampungan tenang di Kecamatan Siantan Tengah, aroma masakan menggoda tercium dari sebuah dapur sederhana yang kini menjadi pusat harapan ratusan pelajar. Inilah Dapur Program Makan Bergizi (MBG) gratis, program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang telah lima bulan berjalan di Kabupaten Kepulauan Anambas.
SEJAK Februari 2025, dapur ini telah menghidangkan makanan bergizi bagi 557 pelajar di empat sekolah: SMK Negeri 1, SMP Negeri 002 Air Asuk, SD Negeri 003 Air Sena, dan SD Negeri 006 Liuk. Di balik dapur, sosok Jaya Saputra memimpin pasukan kecilnya. Sebulan menjabat sebagai Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Jaya telah menyatu dengan irama dapur dan gelombang laut.
”Untuk tahun ajaran ini, jumlah penerima tetap 557 siswa. Belum bisa ditambah, karena kami masih fokus melayani Siantan Tengah,” ujarnya, Kamis (24/7).
Fokus yang terbatas bukan tanpa sebab. Wilayah Anambas bukan daratan rata. Akses menuju sekolah-sekolah bu-kanlah jalan aspal mulus, melainkan laut luas yang kerap berubah wajah. Untuk menjangkau SD 003 Air Sena dan SD 006 Liuk, tim MBG harus menyewa pompong—perahu kayu bermotor—menyusuri gelombang laut sekali dalam seminggu.
”Kalau cuaca buruk, tetap kita antar. Jalannya pelan-pelan, yang penting sampai. Anak-anak tetap harus makan,” tutur Jaya serius.
Ia sadar, tugasnya bukan sekadar memasak. Ia dan timnya sedang membangun masa depan, mengisi perut kosong yang tak boleh jadi alasan putus sekolah. Namun, keterbatasan geografis membuat distribusi MBG belum bisa menjangkau kecamatan lain seperti Palmatak, Jemaja, atau wilayah utama Siantan.
“Kami tahu, di luar sana juga banyak anak yang perlu makanan bergizi. Tapi untuk sekarang, kami lakukan yang bisa kami jangkau dulu,” ujarnya lirih.
Meski begitu, peningkatan kualitas terus dilakukan. Wadah makan kini sudah bukan plastik lagi, melainkan berbahan logam yang lebih aman dan higienis. Bahan makanan juga dikelola dengan standar yang lebih ketat demi menjaga mutu saat pengiriman.
Jaya mengakui, awalnya ia sempat canggung menyesuaikan ritme dapur dan logistik. Tapi, semua rasa lelah seolah sirna setiap kali melihat anak-anak menyantap makanannya dengan senyum lebar.
“Melihat mereka makan lahap, itu jadi penyemangat kami,” kata Jaya, matanya menyiratkan tekad.
Baginya, MBG bukan sekadar program. Ia adalah wujud nyata kehadiran negara di pelosok negeri. Sepiring nasi bergizi menjadi jembatan harapan. Dan setiap hari, tim kecil itu menantang gelombang laut demi memastikan anak-anak tak belajar dalam kondisi perut kosong.
”Harapan saya, program ini bisa diperluas ke seluruh Anambas. Kami siap, asal pemerintah terus mendukung,” pungkas Jaya.
Dari dapur kecil di ujung negeri, suara kompor menyala dan suara laut bersahutan. Di sanalah harapan masa depan negeri terus dimasak dan diantar—dengan sepenuh hati. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : RYAN AGUNG