Buka konten ini

YERUSALEM (BP) – Salah satu yang tidak boleh diserang dalam perang adalah tenaga medis. Namun, Israel telah menyerang tempat tinggal staf dan gudang utama Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Gaza. Selasa (22/7), tank-tank Israel memasuki distrik selatan dan timur Deir al-Balah. Itu adalah kali pertama wilayah tersebut diserang.
Dilansir dari The Guardian, tempat tinggal staf WHO diserang sebanyak tiga kali dengan serangan udara. Korbannya adalah keluarga dan anak-anak para staf WHO. Empat orang juga ditahan. WHO mengecam tindakan Israel. ”Staf pria dan anggota keluarga diborgol, ditelanjangi, diinterogasi di tempat, dan diperiksa dengan todongan senjata,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom, dalam pernyataan resmi di akun media sosial X.
Satu Staf Belum Dibebaskan
Dari empat orang tersebut, tiga orang kemudian dibebaskan. ”Kami meminta pembebasan satu staf kami yang masih ditahan,” ucap Adhanom.
Di sisi lain, tentara Israel mengklaim bergerak ke Deir al-Balah untuk memerangi organisasi militan Palestina, Hamas. Sebelumnya, militer telah meminta ribuan warga Palestina untuk meninggalkan lingkungan terdampak ke arah Al-Mawasi yang dianggap sebagai ”zona kemanusiaan”. Akan tetapi, tentara Israel juga telah menyerang ke sana beberapa kali.
Deir al-Balah sebelumnya dianggap sebagai daerah aman terakhir di Jalur Gaza. Lebih dari 21 bulan terakhir warga Palestina mengungsi ke sana. Namun, Israel juga menyerangnya dengan tiga warga Palestina dilaporkan tewas.
Sekjen PBB-Australia Mengecam
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, terkejut dengan serangan ke Deir al-Balah yang disebutnya sebagai daerah yang menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan warga Palestina. Sementara Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, ikut mengecam pengeboman yang dilakukan Israel di Deir al-Balah. Australia kini bergabung dengan 27 negara lain yang mengecam Israel karena menolak bantuan kepada Palestina.
”Kita telah melihat terlalu banyak gambar anak-anak yang terbunuh, pembantaian yang mengerikan, dan pengeboman gereja. Gambar-gambar yang kita lihat menunjukkan dengan jelas bahwa banyak dari hal ini tidak dapat dibenarkan,” tutur Burke seperti dilansir AFP. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO