Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Dari Jong hingga tanjak, setiap benda warisan budaya Melayu memiliki kisah dan nilai yang layak digali lebih dalam. Semangat itulah yang dihidupkan kembali Museum Batam Raja Ali Haji lewat Seminar Kajian Koleksi Museum yang digelar di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam Center, Senin (21/7). Acara ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari guru sejarah, pelaku seni, hingga pegiat budaya di Batam.
Seminar ini merupakan program rutin Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Batam Raja Ali Haji yang berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi yang membuka wawasan masyarakat mengenai nilai filosofis dan sejarah dari benda-benda koleksi museum.
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, hadir dan membuka langsung kegiatan. Ia memulai sambutannya dengan bait pantun yang khas Melayu.
“Kalau asap sudah mengepul, tentulah awan menjadi kelabu. Kalau pencinta museum sudah berkumpul, tentulah sejarah dan budaya Melayu semakin maju,” ucap Ardiwinata, yang disambut tepuk tangan peserta.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan harapannya agar budaya Melayu tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga dapat dikenalkan secara lebih luas kepada generasi muda.
Harapan itu menurutnya dapat diwujudkan melalui peran aktif para guru sejarah, seniman, pegiat budaya, dan pemerhati warisan tradisi yang hadir dalam kegiatan ini.
Kepala UPTD Museum Batam Raja Ali Haji, Senny Thirtywani, menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin digelar sebagai sarana edukatif dan informatif bagi publik.
”Dari total 83 koleksi yang dimiliki Museum Batam Raja Ali Haji, kali ini kami tampilkan 16 koleksi untuk dikaji secara mendalam,” ujarnya.
Seminar dipandu moderator Raja Zainudin dan menghadirkan lima narasumber yang mengupas satu per satu koleksi bernilai sejarah dan budaya tinggi. Mulai dari Jong dan Kapal Malaka’s Welvaren, Pahar, Semberip, Tepak Sirih, hingga Tudung Manto, Baju Kurung Tulang Belut, dan Nasi Besar.
Kelima narasumber tersebut antara lain Alimun; Diansyah; Raja Muhammad Zen; Raja Marsarah; dan Muhammad Zen. Masing-masing merupakan tokoh pegiat dan praktisi budaya yang telah lama bergiat dalam dunia sejarah serta seni tradisi Melayu.
Seminar berlangsung interaktif dan diakhiri dengan sesi tanya jawab antara pemateri dengan peserta seminar.
Dalam acara tersebut, para peserta tampak antusias dan berupaya menggali makna filosifis dari berbagai benda yang diulas. Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata berupa tanjak dan sertifikat kepada para peserta yang mengikuti seminar hingga akhir acara. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : RATNA IRTATIK