Buka konten ini

BINTAN (BP) – Sepenggal kisah perjuangan hidup datang dari Kampung Jago, Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara. Septi Lestari, seorang ibu tunggal berusia 40 tahun, harus memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga setelah ditinggal suami. Ia membesarkan empat anaknya dalam keterbatasan ekonomi yang menyesakkan.
Namun, di balik kisah pilu itu, harapan tak pernah padam. Kepedulian dan solidaritas dari berbagai pihak terus mengalir, memberikan secercah terang dalam gelapnya perjuangan hidup Septi.
Salah satu bentuk kepedulian datang dari Yayasan Vihara Dharma Shanti Tanjunguban yang bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bintan. Mereka memberikan bantuan perlengkapan sekolah kepada dua anak Septi, Fahri dan Fikri. Bantuan itu berupa tas, sepatu, seragam, kaus kaki, dan buku—perlengkapan sederhana yang sangat berarti bagi keluarga kecil ini.
”Ini adalah bentuk kepedulian kami untuk meringankan beban keluarga Bu Septi,” ujar Antonie Han, Ketua Yayasan Vihara Dharma Shanti Tanjunguban.
Tak hanya itu, perhatian juga datang dari RSJKO Engku Haji Daud (EHD) yang mengirimkan tim medis untuk memeriksa kondisi kesehatan Septi dan anak-anaknya.
Kepedulian masyarakat semakin terasa pada Sabtu (19/7). Bank Sampah Pensosmas bersama jaringan relawan DASI UMAT menyalurkan bantuan langsung ke rumah Septi. Bantuan itu meliputi empat karung beras masing-masing 5 kilogram, dua kantong baju layak pakai untuk anak laki-laki, serta donasi tunai sebesar Rp530 ribu.
Selain itu, hasil penjualan sampah dari program DASI UMAT yang terkumpul sebanyak 77,7 kilogram turut dikonversi menjadi dana sebesar Rp150 ribu dan disumbangkan sebagai bagian dari aksi sosial.
Ketua Bank Sampah Pensosmas, Miswanto, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari program Geber Emas (Gerakan Bersama Edukasi Masyarakat), sebuah gerakan yang menggabungkan edukasi pengelolaan sampah dan pemberdayaan sosial masyarakat.
”Banyak yang belum menyadari, sampah bisa menjadi sumber kebaikan. Dengan mengelola sampah secara bijak, kita tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga bisa membantu sesama,” ujar Miswanto.
Ia menutup dengan pesan yang menggugah,”tidak ada langkah kecil yang sia-sia untuk sebuah kebaikan. Sampah yang kita kelola hari ini, adalah senyum bagi sesama esok hari.” (*)
Reporter : SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GALIH ADI SAPUTRO