Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Laju pertumbuhan kredit melanjutkan perlambatan. Bank Indonesia (BI) menyoroti perbankan lebih suka menempatkan dananya di surat berharga. Kredit perbankan pada Juni 2025 naik 7,77 persen year on year (YoY). Pertumbuhan tersebut melambat jika dibandingkan sebulan sebelumbnya yang mencapai 8,43 persen YoY.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan, saat ini sejatinya likuiditas perbankan cukup memadai. Hal itu terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) yang mulai tumbuh lebih tinggi. DPK Juni 2025 mencatatkan pertumbuhan hingga 6,96 persen YoY. Padahal, pada bulan sebelumnya terkerek sekitar 3,9 persen YoY.
“Bukan masalah likuiditas (kredit melambat) Karena alat likuid per DPK sangat tinggi di 27 persen,” ujarnya di Jakarta akhir pekan lalu (19/7).
Lebih lanjut, Perry menyebut bank kini terlau berhati-hati dalam mendorong kredit. Hal itu yang menyebabkan preferensi penempatan pada surat berharga. Ditambah, lending standard yang menentukan kelayakan pemberian pinjaman kepada peminjam menjadi lebih ketat.
“Imbaun kami, yuk bersama-sama turunkan suku bunga. Yuk kita sama-sama mendorong kredit,” ujarnya.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, pasar keuangan memiliki kelebihan likuiditas. Itu tercermin dari beberapa kali lelang Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang permintaannya lebih dari empat kali.
Dia juga menekankan transmisi suku bunga juga sudah terjadi di SRBI maupun SBN.
“Ambil contoh, SRBI dalam satu bulan yield-nya sudah turun sekitar 40 basis poin, sudah mencapai level dibawah 6 persen yaitu di level 5,85 persen. SBN juga sudah turun 20 hingga 30 basis poin,” paparnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO