Buka konten ini

SEOUL (BP) – Bencana hidrometeorologi menimpa Korea Selatan (Korsel). Curah hujan tinggi yang turun sejak Rabu (16/7) waktu setempat sampai kemarin (20/7) telah mengakibatkan banjir besar dan tanah longsor. Korban meninggal dunia dilaporkan 16 orang dan 12 orang lainnya dinyatakan hilang.
Dilansir dari The Korea Herald, hujan lebat masih terjadi di wilayah utara Korsel kemarin pagi. Contohnya di Gapyeong, Provinsi Gyeonggi. Padahal, kawasan tersebut merupakan kawasan resor. Namun, sebagian besar kematian terjadi di wilayah selatan Sancheong lantaran diguyur hujan 800 mm per hari pada Rabu lalu. Hapcheon dan Hadong yang bersebelahan menerima curah hujan 699 mm dan 621,5 mm per hari.
Menurut Yonhap, beberapa korban tewas termasuk seorang pria yang tertimpa tembok runtuh, seorang lanjut usia terperangkap di ruang bawah tanah, dan seorang pria tenggelam di dekat jembatan. Sementara kebanyakan korban lainnya karena terjebak di dalam mobil yang tenggelam maupun tersapu banjir.
“Tercatat 1.920 kasus jalan terendam banjir, hilangnya tanah, dan hancurnya fasilitas umum, serta 2.234 kasus kerusakan lainnya pada properti pribadi, seperti bangunan dan lahan pertanian. Sebanyak 12.921 orang juga mengungsi di 14 kota besar dan provinsi,” tulis Yonhap.
Menteri Dalam Negeri Korsel Yoon Ho Jung meminta pemerintah daerah untuk memobilisasi semua sumber daya yang tersedia guna melaksanakan pekerjaan pemulihan darurat yang cepat. ”Kementerian dan pemerintah daerah perlu memastikan bahwa warga yang mengungsi di tempat penampungan sementara tidak mengalami kesulitan dengan menyediakan pasokan bantuan yang memadai dan melakukan upaya maksimal dalam pemulihan darurat untuk membantu para pengungsi kembali ke kehidupan normal mereka secepat mungkin,” bebernya.
Mewaspadai Gelombang Panas
Badan Meteorologi Korea (KMA) memperingatkan risiko banjir dan longsor masih berlanjut awal pekan ini. Juli memang musim basah di Korsel. Hujan monsun biasa menerjang pada periode saat ini. ”Yang perlu diwaspadai, hujan lebat bisa diikuti oleh gelombang panas,” kata salah seorang pakar perkiraan cuaca dari pemerintah Korsel.
Pada 2022 dan 2023, Korsel juga pernah mengalami curan hujan lebat yang mengakibatkan banjir besar. Jumlah korban meninggal tahun ini, 16 jiwa sampai kemarin, melebihi 11 jiwa pada tiga tahun lalu. Sementara dua tahun lalu, jumlah korban jiwa mencapai 41 orang. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO