




Siswa SMK yang sukses menjadi pelopor dari budaya pengelolaan sampah menjadi sumber cuan, “Ketika kita fokus pada tujuan untuk memperbaiki lingkungan, lingkungan juga akan memperbaiki kita, bumi selalu bisa tanpa manusia, tapi manusia tanpa bumi tak bisa apa apa”.
Seorang anak dari ibu yang berprofesi sebagai penjahit rumahan, ia adalah Muhammad Hasbi Ramdhani, atau biasa dipanggil Hasbi, yang saat ini berusia 18 tahun, dan baru lulus SMK. Sedari kecil, ia sudah terbiasa bergelut dengan benang dan juga jarum.
”Sejak umur 15 tahun, saya senang menjahit sekadar memendekkan celana, karena saya hobi thrifting berbelanja barang-barang unik di pasar seken,” ungkapnya.
Di usia 15 tahun, Hasbi memantapkan diri untuk masuk SMK Jurusan Bisnis Daring Pemasaran (BDP), di sekolah Permata Harapan 1 Baloi. Hingga saat ia duduk di bangku kelas 11, salah satu syarat untuk bisa lulus SMK Jurusan BDP adalah wajib membuat 1 bisnis.
”Jadi pada tahun 2024 tepatnya Maret kemarin, saya iseng-iseng untuk buat celana yang dikreasiin dengan bintang-bintang, dan gak nyangka ada yang tertarik, dari situ bisnis saya mulai berkembang,” terang Hasbi.
Dalam perjalanan dari 1 tahun ke belakang, ia sadar bahwa yang ia lakukan ini bukan hanya kreativitas, tetapi juga membawa satu isu internasional, yaitu krisis iklim dan pengelolaan limbah. Melihat kondisi Batam adalah pulau perbatasan yang strategis, karena diapit Malaysia dan Singapura, menjadikan Batam sebagai gerbang utama impor, termasuk pakaian bekas pakai yang dilarang, sebelum diedarkan ke wilayah Indonesia lainnya.
”Karena saya adalah salah satu penikmat barang-barang unik yang ada di thrifting pasar seken, saya melihat ada celah besar yang merugikan lingkungan yaitu masuknya barang seken berlebihan, budaya konsumtif, dan pengelolaan sampah yang tidak efektif,” sebutnya.
OnRework berasal dari Bahasa Inggris, on artinya sedang atau dilakukan dan rework pengerjaan kembali, Hasbi memilih nama ini se-sederhana bahwa proses sedang dikerjakan kembali adalah semua aktivitas yang dilakukan onRework untuk membuat produk dengan kualitas yang bagus, pengalaman puas konsumen, dan pembuatan ulang agar lingkungan Kota Batam menjadi lebih baik.
”Produk kami cukup banyak dalam setiap kategori, seperti keychain, crochet, rework tie, shoulder bag, sling bag, totebag, dan dual function bag,” sebut Hasbi.
Untuk harga mulai dari Rp15 ribuan sampai Rp650 ribu, dan dalam sebulan bisa dapat sekitar 30-40 pesanan. Tak hanya itu, OnRework sudah berhasil menaiki skala level lokal sampai internasional, yang mana wisatawan dari banyak negara seperti Singapura, Vietnam, United Kingdom, Amerika, dan Australia, membeli barang OnRework sebagai bentuk mendukung tujuan dari sustainable environment.
Hasbi bercerita, dari awal merintis ia dibantu oleh ibunya, dengan modal 0 rupiah, karena menggunakan bahan yang ada, seperti pakaian bekas pakai dan mesin jahit sekaligus kebutuhan mesin jahit lainnya. Setiap produk yang ia ciptakan selalu berbeda only 1 on 1, tidak ada yang sama persis, dan memiliki cerita yang berbeda-beda dalam setiap proses pembuatannya.
”Sedangkan untuk omzet masih tidak stabil, tapi sudah bisa menyentuh satu digit,” bebernya.
OnRework sendiri juga menyediakan barang jadi, tetapi lebih dominan preorder, karena mereka melayani custom sesuai desain dari pelanggan, sedangkan untuk pemesanan bisa melalui Instagram @onrework dan @cradio.co. OnRework juga sudah beberapa kali mengikuti pameran, seperti Dualima Event di Mitra Raya, Chrismast Night Market di Cafe Sukajadi, Dualima Event di Panbil Naturepark, dan terakhir di Batam Sunday Market 28-29 Juni lalu.
Melalui bisnis ini, Hasbi berharap bisa menjadi tempat pembelajaran edukasi pengelolaan limbah mulai dari diri sendiri, karena krisis iklim adalah tanggung jawab semua orang tanpa terkecuali. Hasbi cukup optimis, pada scalable bisnis onrework bisa menjadi pembuka lapangan kerja, dari anak SMK bisa menjadi forbes kategori sustainable yang luar biasa. ”Kalau kamu nunggu siap dulu, kamu gak akan mulai-mulai.
Mulai saja dari hal kecil, dari apa yang kamu suka dan punya. Jual ke teman, tes pasar, sambil belajar. Gagal itu biasa, tapi jangan gagal belajar. Kita masih muda, waktunya coba, salah, bangkit, dan tumbuh,” ujarnya di akhir perbincangan. (***)
Reporter : TIA CAHYA NURANI
Editor : ANDRIANI SUSILAWATI