Buka konten ini

Kepada Jauhari Shodiq, suporter timnas dari kelompok Garuda Wani, Vincent Jenner menuturkan kalau ia menemui saudara sang ibu di Kencong, Jember. Perkenalan Jauhari dengan Vincent dan Ivar dimulai saat tur ke Jakarta menyaksikan laga Indonesia vs Tiongkok.
DARI Utrecht, Belanda, Ivar Jenner menyapa Jauhari Shodiq yang tengah berada di Jember, Jawa Timur. Ponsel Vincent Jenner, ayah gelandang tim nasional (timnas) tersebut yang menjadi perantara me-lalui panggilan video.
“Ivar berterima kasih atas dukungan para suporter timnas, termasuk kami dari Garuda Wani,” kata Jauhari, mengenang pembicaraannya dengan penggawa klub Belanda Jong Utrecht itu pada Senin (7/7) malam pekan lalu seperti disampaikan kepada Radar Jember (grup Batam Pos).
Vincent bersama seorang kerabat perempuan dan Jauhari yang ditemani Andrian Setyo Wardana, sesama pegiat di Garuda Wani, kelompok suporter timnas dari Jember, tengah berada di alun-alun kabupaten tetangga Lumajang dan Banyuwangi pada Minggu malam itu. Siangnya, Vincent baru saja menelusuri jejak sang ibu yang pernah tinggal di kawasan Kencong, Jember.
“Jadi, pada Minggu malam (6/7) saya mendapat pesan lewat DM (direct message/pesan langsung) di Instagram dari Vincent. Dia bilang kalau Senin (7/7) mau ke Jember dan ingin bertemu saya,” kata Jauhari.
Radar Jember sudah mengirim beberapa pertanyaan langsung ke Vincent yang hanya sehari berada di Jember, baik melalui email maupun direct message via Instagram. Namun, hingga berita ini selesai ditulis kemarin, belum ada balasan.
Jauhari dikenal Ivar dan Vincent setelah tur bersama rombongan Garuda Wani ke Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, saat Indonesia menjamu Tiongkok di lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 pada 5 Juni. Spanduk yang terpasang di bodi bus yang dinaiki Garuda Wani bertuliskan “Rombongan Keluarga Besar Ivar Jenner” dan kemudian ramai menjadi sorotan di Instagram.
Demikian juga dengan foto Jauhari dengan kaus bergambar Ivar. Jauhari menyebut kalau ia sempat mengirim DM ke Vincent saat tur ke Jakarta tersebut. Vincent meminta dikirimi foto Jauhari memakai kaus bergambar Ivar serta spanduk di bus tadi. Ivar kemudian juga turut mengunggah foto Jauhari tersebut.
Sejarah di Kencong
”Iya, ayahku, mamanya ayah-ku (keturunan Indonesia). Jadi, omaku lahir di Jawa (Jember). Jadi, ayahku setengah Indonesia dan aku seperempat Indonesia,” kata Ivar dalam video wawancara di kanal YouTube Yussa Nugraha, seperti dikutip dari Radar Jember.
Informasi yang didapat Jauhari, Vincent bersama kerabat perempuannya menuju ke Kencong, Jember, tempat sang ibu dilahirkan dan sempat tinggal beberapa tahun. “Iya, jadi Vincent ini sengaja ke Kencong untuk menemui saudara nenek dari Ivar,” ucap Jauhari.
Seusai dari Jember, Vincent mempublikasikan story di akun Instagram pribadinya yang menunjukkan ia pergi ke Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. “Onze reis begon in Jember, maar leide naar Magelang – naar oma, die daar als kind bij Pa van de Steur woonde,” tulis Vincent. Yang kurang lebih artinya, “Perjalanan kami dimulai di Jember, namun berakhir di Magelang – ke nenek yang tinggal di sana saat kecil bersama Pa van de Steur,” beber Vincent.
Pa van de Steur adalah nama panggilan Johannes van de Steur. Di Magelang, pria asal Haarlem, Belanda, itu bertugas sebagai penginjil sekaligus menjalankan misi sosial menjadi pengasuh anak-anak keturunan tentara Belanda totok maupun indo yang kehilangan ayah mereka akibat perang.
Sedangkan di Kencong, akademisi Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember Dr. Latifatul Izzah menuturkan, sebelum 1850, wilayah Jember mulai menjadi perhatian beberapa investor dari Belanda, terutama karena potensi agrarisnya yang besar. Namun, pertumbuhan signifikan arus investasi terjadi setelah tahun 1870, seiring meningkatnya permintaan terhadap komoditas tembakau di pasar Eropa.
“Perluasan usaha ini juga disertai dengan kebutuhan akan tenaga profesional dari Eropa, khususnya dari Belanda, untuk mengelola dan mengawasi kegiatan operasional perkebunan secara langsung,” ucapnya.
Hal itu pun merujuk pada kondisi geografis dan demografis Jember, khususnya daerah-daerah padat penduduk seperti Sukowono, Jelbuk, dan Kencong, yang menjadi faktor strategis bagi pengembangan perkebunan tembakau. Salah satu fenomena yang kemudian mengiringi pada masa itu adalah praktik pernyaian, yaitu hubungan informal antara pria Belanda dengan perempuan pribumi yang seringkali tidak diakui secara hukum. Fenomena ini cukup umum terjadi di kalangan pegawai dan investor kolonial sebagai bentuk relasi kuasa dan dominasi kolonial dalam kehidupan sosial.
Tukar Jersey
Kepada Jauhari, Vincent tak menuturkan apa saja yang ia dapat dari penelusuran di Jember, khususnya Kencong. Namun, ia sempat bertukar jersey sebagai tanda mata.
Vincent menyerahkan jersey FC Utrecht, sementara Jauhari memberikan t-shirt spesial bergambar wajah Ivar. “Saya belum tahu kapan Ivar akan ke Jember. Fokusnya sekarang ke penyembuhan cedera,” kata Vincent seperti ditirukan Jauhari. (***)
Laporan: M. AINUL BUDI
Editor: RYAN AGUNG