Buka konten ini

Harga daging sapi beku di Kota Batam melonjak tajam hingga menyentuh Rp120 ribu per kilogram (kg). Kenaikan ini mengundang keprihatinan Pemerintah Kota Batam, yang akan menggelar rapat terpadu bersama para distributor dan instansi teknis hari ini, untuk membahas akar persoalan serta mencari solusi.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan telah memerintahkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, untuk segera menindaklanjuti persoalan ini.
“Saya sudah minta Pak Mardanis follow up (tindak lanjut) dengan stakeholder (pengambil kebijakan) terkait, termasuk distributor dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) teknis,” kata Amsakar, Selasa (15/7).
Menurutnya, lonjakan harga ini berpotensi memengaruhi stabilitas inflasi di Batam. Ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara harga produsen dan kemampuan beli masyarakat.
“Kalau harga naik, daya beli masyarakat tertekan. Tapi kalau terlalu turun, pelaku usaha bisa rugi. Inflasi harus dijaga tetap dalam rentang sehat,” ujarnya.
Amsakar menyebut, kenaikan harga dipicu keterbatasan pasokan dari luar daerah, termasuk dari Australia dan Lampung yang selama ini menjadi pemasok utama. Kondisi ini menyebabkan stok cadangan daging beku di Batam menipis.
“Kalau kendala berasal dari produksi ternak di dalam negeri, kita tak bisa intervensi. Tapi jika masih dalam kewenangan pemerintah, insyaallah akan kita upayakan,” tegasnya.
Pemko Batam juga akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lapangan guna melihat langsung kondisi distribusi dan stok daging beku. Amsakar menegaskan pihaknya tidak ingin masyarakat dirugikan oleh kelangkaan atau permainan harga di lapangan.
Ita, warga Batuampar, mengaku kaget saat mendapati harga daging beku naik dari sebelumnya Rp95 ribu menjadi Rp120 ribu per kg.
“Masak harganya sudah mendekati daging segar yang Rp150 ribu. Pemerintah harus turun tangan,” keluhnya.
Ratusan Merek Bermasalah, Pemko Batam Bersiap Turun Tangan
Skandal beras oplosan merek premium mengguncang pasar nasional. Sebanyak 212 merek beras dilaporkan tidak sesuai label dan mutu oleh Kementerian Pertanian. Kota Batam, sebagai wilayah perdagangan dan pintu logistik, diduga tidak luput dari peredaran beras bermasalah tersebut.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyatakan akan menindaklanjuti temuan tersebut. Pemerintah kota akan mengecek peredaran beras premium di pasar dan distributor. “Besok kami akan jawab detail soal sembako. Saya ingin pastikan dulu informasinya,” kata Amsakar, Selasa (15/7).
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, sebelumnya mengungkapkan bahwa 85 persen beras yang dijual sebagai beras premium, ternyata hanya beras biasa dengan kualitas rendah. Praktik ini merugikan masyarakat karena harga premium yang dibayar tidak sesuai mutu produk.
“Volume juga dikurangi. Harusnya 5 kilogram, tapi isinya hanya 4,5 kg. Harga bisa selisih Rp2.000–Rp3.000 per kg,” kata Amran.
Kementan memperkirakan praktik curang ini menyebabkan kerugian hingga Rp99 triliun per tahun secara nasional. Dalam lima tahun, potensi kerugian mencapai Rp500 triliun.
Empat grup besar diduga terlibat, termasuk Wilmar Group dan PT Food Station Tjipinang Jaya. Merek seperti Sania, Fortune, Sovia, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Ayana termasuk yang diduga tidak sesuai kualitas labelnya.
Wilayah distribusi beras-beras tersebut meliputi hampir seluruh Indonesia, termasuk Sumatera. Meski Batam belum disebut secara eksplisit, namun sebagai kota dagang dan pintu logistik, besar kemungkinan beras bermasalah telah masuk ke pasar-pasar lokal.
Di Batam, harga beras premium memang tinggi. Jika terbukti kualitasnya di bawah standar, maka konsumen sangat dirugikan. Pemerintah daerah pun bersiap melakukan langkah antisipatif. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK