Buka konten ini

TEHERAN (BP) – Iran menyatakan tidak menutup pintu kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA). Hal itu menandai perubahan nada diplomatik Iran yang sebelumnya memperketat akses IAEA ke fasilitas nuklir mereka.
Ketegangan Iran dengan badan atom dunia itu muncul setelah pemboman oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) ke fasilitas nuklir mereka pada Juni lalu. Menyusul serangan tersebut, parlemen Iran meloloskan undang-undang baru yang mewajibkan inspeksi IAEA harus mendapatkan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran selaku badan keamanan tertinggi di negara tersebut.
Dilansir dari Reuters, Senin (14/7), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut, pembatasan akses fisik ke situs-situs nuklir yang terkena dampak serangan udara Israel-AS lantaran berisiko serius bagi keamanan nasional maupun keselamatan para inspektur.
”Risiko penyebaran material radioaktif dan kemungkinan meledaknya amunisi yang tersisa adalah hal yang nyata,” ujar Araghchi seperti dikutip oleh media pemerintah.
“Bagi kami, keberadaan inspektur IAEA di situs nuklir memiliki aspek keamanan, dan keselamatan para inspektur merupakan persoalan yang harus dipertimbangkan,” sambungnya.
Meski tidak menghentikan kerja sama sepenuhnya, Iran akan mengatur kembali bentuk hubungan dengan IAEA. Menurut Araqchi, permintaan pemantauan oleh badan nuklir PBB itu akan dinilai secara kasus per kasus oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Araqchi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima kesepakatan nuklir apa pun yang membatasi haknya untuk memperkaya uranium. Dia juga menolak perluasan topik negosiasi yang mencakup isu pertahanan, termasuk program misil. “Kami hanya akan menyetujui perundingan yang terbatas pada program nuklir kami,” ujarnya mengakhiri. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO