Buka konten ini

MELBOURNE (BP) – Ilmuwan Australia mencatatkan terobosan penting di bidang biomedis global. Para peneliti di Universitas Monash dan Universitas Melbourne berhasil menciptakan protein biologis siap pakai menggunakan akal imitasi (AI). Inovasi itu membuka jalan bagi pengobatan berbagai penyakit kronis, mulai dari kanker hingga infeksi akibat ”superbug” yang kebal antibiotik.
Proses merancang protein yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun pun kini hanya dalam hitungan detik. Pencapaian itu mengukuhkan posisi Australia di antara negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan platform desain protein berbasis AI.
Adopsi Pendekatan Pemenang Nobel Kimia
Seperti dilansir dari Science Daily pada Senin (14/7), penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications itu dipimpin oleh Dr. Rhys Grinter dan Professor Gavin Knott. Keduanya mengadopsi pendekatan menyeluruh yang sebelumnya dikembangkan oleh David Baker, pemenang Nobel Kimia 2024.
”Saat ini kami mengembangkan protein itu sebagai obat, vaksin, nanomaterial, hingga sensor berukuran mikroskopik, dengan berbagai potensi lain yang masih belum teruji,” tutur Knott.
Selama ini para ilmuwan biasanya memodifikasi protein yang sudah ada di alam untuk membuat obat atau terapi penyakit seperti kanker dan infeksi. Caranya lewat teknik-teknik laboratorium seperti desain rasional atau evolusi buatan.
Belum Pernah Ada di Alam
Kini, menurut Grinter, AI memungkinkan para peneliti untuk mendesain protein baru dari nol—yang benar-benar belum pernah ada di alam—dan disesuaikan langsung dengan fungsi atau target yang diinginkan. ”Pendekatan ini bisa mempercepat proses pengembangan pengikat protein dan enzim baru, sekaligus menekan biaya secara signifikan,” jelas Grinter.
Perangkat lunak seperti Bindcraft dan Chai yang dikembangkan dari riset Baker telah diintegrasikan ke platform desain protein AI milik tim Grinter dan Knott. ”Ini pencapaian luar biasa dua ilmuwan membangun program ini dari nol, sekarang membawa Australia ke garda depan pengembangan terapeutik dan alat riset baru,” puji Professor John Carroll. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO