Buka konten ini
Di balik gemerlap panggung musik dan nuansa lagu yang memanjakan telinga, ada sejumlah sosok musisi yang kerap tidak tersorot sinar lampu panggung. Namun berperan penting dalam setiap komposisi musik.
DI atas panggung, lampu sorot menari. Penonton bersorak. Penyanyi utama berdiri gagah menyanyikan lagu demi lagu. Namun di balik semua itu, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap. Tak disebut namanya, tak pula diabadikan kameramen. Tapi permainan mereka adalah denyut hidup dari sebuah pertunjukan musik.
Merekalah para session player. Musisi profesional yang mengiringi penampilan para artis. Tak masuk formasi tetap sebuah band, tapi selalu hadir di balik layar, menjadi pendamping musikal yang menjaga ritme dan harmoni tetap utuh.
Di Tanjungpinang, profesi ini tidak banyak dilirik. Tapi ada satu nama yang memilih menempuh jalan itu: Mahariyadi, 43, musisi berdarah Melayu-India yang lebih dikenal dengan nama panggung Lowdy Bazz. Ia bukan sekadar pemain bass. Ia adalah ruh sunyi di panggung-panggung besar, dari kota kecil Tanjungpinang hingga panggung megah di Batam, Jakarta, Singapura, hingga Malaysia.
”Kadang nama disebut, kadang tidak sama sekali. Tapi itu bagian dari tantangan sebagai session player,” ucapnya, tersenyum.
Di usia belia, Lowdy sudah jatuh cinta pada musik. Suaranya tinggi, dan jari-jarinya lincah menari di atas senar bass. Kini, ia tergabung dalam band lokal Magnetic, yang saban pekan tampil dari kafe ke kafe atau acara pernikahan. Namun di balik kesibukan itu, ia terus belajar dan membangun jejaring. Jalan hidupnya kini jelas, menjadi seorang session player profesional.
Kemampuannya memainkan berbagai genre—dari rock, jazz, pop rock, pop, dangdut, hingga Melayu modern—membuat namanya dikenal kalangan produser dan manajer panggung. Undangan tampil pun berdatangan. Bukan untuk jadi sorotan utama, tapi sebagai fondasi musik yang menopang sang bintang.
Ia pernah mengiringi nama-nama besar seperti Fadly (Padi), Pasha (Ungu), Ophi Danzo (eks Voodoo), Anda (Bunga), Irang (eks BIP), hingga Charly (ST12).
Di sisi penyanyi perempuan, ia pernah tampil bersama Rieka Roeslan, Pia (Utopia), Dahlia dan Septi (KDI), serta Kiki (LIDA). Ia juga menjadi pengiring untuk para finalis Indonesian Idol seperti Delon, Dirly, Firman, Hudson, dan lainnya.
“Jadi session player itu tidak bisa asal main. Kita dituntut profesional. Kalau main jelek, yang kena bukan cuma kita, tapi juga penyanyi utamanya,” tegas mantan vokalis band Spector ini.
Dalam dunia yang kerap memuja wajah tenar, profesi session player seolah berada di lorong sunyi. Mereka dibayar per proyek, tanpa kontrak panjang, tapi harus tampil nyaris sempurna dalam kondisi apa pun. Latihan bareng penyanyi? Sering kali tidak sempat. Tapi ketika panggung menyala, mereka harus sudah menyatu dalam lagu yang dibawakan.
”Ini jelas bukan pekerjaan yang glamor. Tapi saat bisa mengiringi penyanyi besar dan membuat penonton terkesan, itu kebanggaan yang tidak bisa diukur,” ujar Lowdy.
Di tengah keterbatasan dan minimnya panggung di kota kecil seperti Tanjungpinang, ia tetap teguh. Ia bangga bisa membawa nama daerahnya hingga diakui di panggung nasional. Baginya, yang terpenting bukan popularitas, tapi dedikasi.
”Musik bukan cuma soal tenar. Ini soal disiplin, kerja keras, dan semangat untuk terus belajar,” ujarnya.
Lowdy berharap, ke depan makin banyak anak muda di Tanjungpinang yang melihat musik sebagai profesi yang layak diperjuangkan. Tak harus jadi bintang utama. Karena di balik kemilau panggung, ada ruang berkarya yang tak kalah mulia, menjadi session player.
“Harapan saya, anak-anak muda bisa sadar bahwa dunia musik itu luas. Tidak harus jadi penyanyi terkenal. Jadi session player pun bisa membawa kita ke mana-mana,” pungkasnya. (***)
Reporter : YUSNADI NAZAR
Editor : GALIH ADI SAPUTRO