Buka konten ini
LONDON (BP) – Iga Swiatek sudah dikenal sebagai “Ratu Lapangan Tanah Liat”. Sebab, gelar-gelar di Grand Slam yang selama ini dia rengkuh lebih banyak tercipta di lapangan tanah liat.
Dari lima gelar Grand Slam, empat gelar di antaranya dia rebut di lapangan tanah liat Roland Garros dalam French Open. Sementara, satu gelar lainnya Swiatek dapatkan di lapangan keras dari US Open.
Karenanya, final Wimbledon pertamanya nanti bakal menjadi tantangan barunya di lapangan rumput. Swiatek akan menghadapi petenis Amerika Serikar (AS) Amanda Anisimova saat final di All England Lawn Tennis and Croquet Club, Wimbledon, London, malam nanti (siaran langsung SPOTV pukul 18.00 WIB).
Swiatek melaju ke final Grand Slam pertamanya tahun ini setelah menyingkirkan Belinda Bencic. Swiaten menang di laga semifinal 6-2 dan 6-0. Sementara, Anisimova secara mengejutkan mampu mengandaskan asa Aryna Sabalenka dengan skor 6-4, 4-6, dan 6-4.
Dikutip dari laman The Guardian, Swiatek menyebut setiap final Grand Slam yang dia jalani selalu mempunyai kisah berbeda. Demikian pula final Wimbledon pertamanya ini.
“Sulit untuk membandingkan setiap perjalanan ini. Untuk saat ini aku menikmati perasaanku dan lebih nyaman ketika bermain di lapangan rumput,” sebut Swiatek, yang sebelumnya mentok bersaing sampai perempat final.
Petenis nomor 8 dunia tersebut hanya mencoba mengikuti insting bermainnya di lapangan rumput. “Ini (lapangan rumput) berbeda dengan permukaan lainnya. Sebab, di sini kita punya lebih banyak waktu untuk membangun reli,” tutur petenis 24 tahun itu.
Di sisi lain, Anisimova akan jadi harapan pecinta tenis AS. Sebab, dia jadi petenis AS pertama yang melangkah ke final Wimbledon setelah Serena Williams mencapainya pada 2019 silam.
Saat itu, Serena menyerah 2-6 dan 2-6 di tangan petenis Rumania, Simona Halep. Anisimova pun membawa rekor bagus petenis-petenis putri AS yang sering memenangi Wimbledon. Termasuk Serena, ada sepuluh petenis putri AS yang pernah menjuarainya.
Dilansir dari laman The Tennis Gazette, Anisimova menyebut Swiatek sosok yang menginspirasinya. Bukan hanya dari prestasi Swiatek, begitu pula etosnya. “Ini bisa jadi laga yang hebat. Bersaing kembali dengan petenis hebat akan membuatku terasa sangat spesial,” tutur petenis 23 tahun itu. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG