Buka konten ini
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 316 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terjadi hingga 4 Juli 2025. Sebaran kasus tersebar di seluruh kecamatan, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah padat penduduk.
Kecamatan Batam Kota menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 53 kasus. Disusul Sagulung dan Bengkong yang masing-masing mencatatkan 46 kasus, kemudian Sekupang dengan 42 kasus, serta Batu Aji sebanyak 37 kasus. Kelima kecamatan ini menjadi prioritas utama dalam pengendalian DBD.
Sementara itu, wilayah dengan tingkat kasus menengah hingga rendah antara lain Lubuk Baja (33 kasus), Batu Ampar (22 kasus), Nongsa (16 kasus), dan Sei Beduk (13 kasus). Adapun Kecamatan Galang mencatatkan 7 kasus, Belakang Padang hanya 1 kasus, dan Kecamatan Bulang menjadi satu-satunya wilayah yang nihil kasus hingga awal Juli.
Penyebaran kasus DBD di Batam menunjukkan tren konsentrasi di kawasan perkotaan dengan kepadatan penduduk tinggi. Hal ini mendorong Pemko Batam untuk melakukan langkah pencegahan dan pengendalian yang lebih terfokus dan menyeluruh.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan pihaknya terus menggencarkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serta fogging fokus di wilayah dengan kasus tinggi.
“Kami juga melakukan edukasi kepada masyarakat serta pemantauan berkala di titik-titik rawan,” ujar Didi, Jumat (11/7).
Meski jumlah kasus tahun ini cenderung menurun dibanding tahun sebelumnya, Didi menegaskan upaya pengendalian harus tetap ditingkatkan. “Penurunan total kasus sudah signifikan, tapi kami tetap perlu kerja keras untuk menurunkan sebaran di kecamatan-kecamatan yang masih tinggi,” katanya.
Pemko Batam menargetkan angka kejadian (incidence rate) dapat ditekan mendekati target nasional, yakni di bawah 10 per 100.000 penduduk. Karena itu, partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dinilai sangat penting.
Hidayat, warga Batuampar, berharap Dinas Kesehatan dan puskesmas di tiap wilayah bisa lebih aktif lagi melakukan sosialisasi dan pencegahan dini. Ia menilai, peran juru pemantau jentik (jumantik) sangat krusial, terutama di lingkungan padat penduduk.
“Dinkes seharusnya dorong para jumantik dan pihak puskesmas rutin turun ke lapangan, sosialisasi 3M, dan bagikan bubuk Abate ke rumah-rumah warga. Itu lebih efektif untuk bunuh jentik nyamuk sebelum nyebar,” ujar Hidayat.
Gerakan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk—terus digencarkan. Upaya tambahan seperti penggunaan kelambu, lotion anti-nyamuk, serta pelibatan RT/RW, sekolah, dan dunia usaha juga menjadi bagian dari strategi jangka menengah pengendalian DBD. (***)
Reporter : Arjuna
Editor : RATNA IRTATIK