Buka konten ini
Di balik sorotan lampu panggung dan deretan penghargaan yang berkilau, ada Karina Rasmita Sembiring, perempuan muda asal Batam yang berhasil membuktikannya. Mimpi, jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, bisa membawa langkah sejauh apa pun.
SEBUAH gaun sederhana membalut tubuh Karina Rasmita Sembiring malam itu. Di atas panggung gemerlap, ia berdiri tegak, senyumnya mengembang, dan suaranya lantang menyampaikan pesan yang menyentuh hati.
”Malam ini, Bali jadi saksi bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar,” katanya, menatap para tamu undangan di perhelatan Asia Most Creativi-ty Women Leadership Award 2025, Sabtu (28/6) lalu.
Bagi perempuan kelahiran Batam ini, malam itu bukan sekadar ajang seremonial.
Itu adalah perayaan atas perjalanan panjang yang dibangun dengan kerja keras, keberanian, dan keyakinan bahwa perempuan bisa berdiri sejajar di panggung mana pun—bahkan di level internasional.
Perjalanan Karina tak dimulai dari kilau lampu panggung. Ia tumbuh seperti kebanyakan perempuan lainnya, dengan mimpi yang awalnya terasa terlalu tinggi untuk dijangkau. Namun pelan-pelan, langkahnya menapak pasti. Sejak mendirikan Focus Inter Media, Karina menjadikan industri kreatif sebagai medan perjuangan—bukan sekadar lahan bisnis, tapi wadah untuk menciptakan ruang dan suara bagi banyak orang.
”Di industri kreatif, perempuan sering kali harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapat pengakuan. Tapi justru di situlah kita ditempa,” ucapnya suatu ketika.
Apa yang ia katakan bukan bualan. Dalam kurun waktu sebulan, Karina meraih dua penghargaan internasional bergengsi. Setelah penghargaan di Bali, sebelumnya ia dinobatkan sebagai penerima The Best Inspiring and Creativity Women Award 2025 di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (11/7).
”Ini bukan tentang saya saja. Ini tentang semua perempuan Indonesia yang berani bermimpi dan tidak menyerah,” katanya usai menerima penghargaan itu.
Dalam dunia digital dan komunikasi yang terus berkembang, Karina melihat celah untuk membangun pengaruh. Ia menggunakan media sebagai alat untuk menyampaikan gagasan, bukan sekadar mengejar tren.
Menurutnya, kekuatan perempuan ada pada kemampuan mereka untuk beradaptasi, mencipta, dan memimpin. Maka, ketika namanya dipanggil di ajang-ajang internasional itu, Karina merasa bahwa apa yang ia perjuangkan selama ini mendapatkan pengakuan yang sepadan.
”Penghargaan ini adalah bukti bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Apalagi di tengah upaya memperkuat eksistensi karya anak bangsa di kancah global,” ujar Karina.
Ia meyakini, ajang-ajang semacam ini bukan hanya tempat untuk berfoto dan menerima plakat. Lebih dari itu, ini adalah panggung untuk memperkuat posisi pelaku kreatif Indonesia di mata dunia. Tempat di mana kolaborasi lintas negara bisa terjadi, dan kredibilitas Indonesia dalam industri kreatif makin diakui.
Dalam langkahnya, Karina tak sendiri. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya tanpa pamrih. Salah satunya adalah Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, yang disebut Karina sebagai sosok inspiratif.
“Ibu Li Claudia adalah salah satu tokoh yang selalu memberi semangat. Dukungan beliau sangat berarti bagi saya,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Kini, setelah dua panggung internasional ia tapaki, Karina tidak ingin berhenti. Ia berharap pencapaiannya menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar. Ia ingin menjadi bukti hidup bahwa mimpi bisa dicapai siapa pun, asal ada keberanian dan kemauan untuk bekerja keras.
”Kalau saya bisa berdiri di panggung ini, maka siapa pun bisa. Kuncinya hanya dua: kerja keras dan keberanian,” ujarnya mantap.
Nama Karina kini menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi perempuan-perempuan lain, khususnya dari daerah. Dari Batam, ia membuktikan bahwa asal-usul bukan halangan untuk mendunia. Bahwa panggung besar bisa dicapai siapa pun yang berani bermimpi dan berani mencoba.
Karina Rasmita telah menembus batas. Dan kini, ia membuka pintu bagi lebih banyak perempuan Indonesia untuk menyusul jejaknya—berdiri gagah di panggung dunia. (***)
Laporan: Rengga Yuliandra
Editor: RYAN AGUNG