Buka konten ini
BALOCHISTAN (BP) – Provinsi Balochistan di barat daya Pakistan kembali diguncang kekerasan. Dilansir dari channelnewsasia.com, sedikitnya sembilan penumpang bus tewas setelah diculik dan dieksekusi oleh kelompok militan di wilayah tersebut. Peristiwa mengerikan itu terjadi pada Kamis (10/7) malam dan dikonfirmasi pejabat pemerintah setempat keesokan harinya.
Menurut pejabat distrik Naveed Alam, para militan menghentikan dua bus penumpang yang melintas di jalan raya utama Balochistan. Mereka memeriksa kartu identitas setiap penumpang, lalu memaksa sembilan orang turun di bawah todongan senjata. ”Mereka diseret ke daerah terdekat dan dieksekusi di sana,” ujarnya kepada AFP.
Korban disebut berasal dari Punjab, provinsi terpadat dan paling makmur di Pakistan yang juga menjadi kantong utama rekrutmen militer. ”Mayat para korban semuanya warga Punjab,” ujar pejabat senior lainnya, Saadat Hussain.
Kelompok separatis Front Pembebasan Balochistan atau Balochistan Liberation Front (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Kelompok ini dikenal sebagai ancaman serius bagi kepentingan asing, pasukan keamanan, dan warga dari luar Balochistan yang tinggal atau bekerja di provinsi tersebut.
Balochistan, yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dan Iran, merupakan wilayah kaya sumber daya seperti hidrokarbon dan mineral. Namun, sekitar 70 persen dari 15 juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan.
Ketimpangan ekonomi dan dominasi pusat menjadi bahan bakar gerakan separatis di wilayah itu.
Konflik berkepanjangan di Balochistan telah memicu kritik dari organisasi hak asasi manusia. Mereka menuduh militer Pakistan melakukan pendekatan represif dalam menangani pemberontakan, termasuk penculikan paksa dan pembunuhan di luar proses hukum.
Aksi kekerasan serupa pernah terjadi pada Maret lalu, saat kelompok militan menyandera kereta api yang mengangkut lebih dari 450 penumpang. Tahun 2024 pun menjadi tahun paling berdarah dalam satu dekade terakhir, dengan lebih dari 1.600 orang tewas akibat serangan kekerasan di seluruh Pakistan. Data itu disampaikan oleh Center for Research and Security Studies (CRSS), lembaga analis yang berbasis di Islamabad. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG