Buka konten ini
Aksi kekerasan oleh kelompok pengamen jalanan kembali memicu keresahan publik. Seorang pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban pelemparan batu oleh pengamen di Simpang Kepri Mall, Batam Kota, Rabu malam (9/7). Insiden ini membuat warga semakin geram dan menuntut pemerintah bertindak tegas.
“Kalau enggak dikasih uang mereka nungguin di samping kaca. Kadang marah-marah. Uang pun dipakai beli lem. Ini bukan hiburan lagi, tapi ancaman,” kata Yudi, warga Batam Centre, Kamis (10/7).
Anita, ibu rumah tangga, bahkan mengaku trauma.
“Pernah pintu mobil saya digedor waktu bawa anak kecil. Mereka minta uang sambil maksa. Sekarang tiap lewat situ rasanya takut,” ujarnya.
Fadil, warga Batuaji, menilai hampir semua persimpangan lampu merah kini dikuasai pengamen, anak jalanan, dan manusia silver.
“Banyak yang mabuk, teriak-teriak, jalan sempoyongan. Bahaya banget buat pengendara,” ucapnya.
Menanggapi situasi ini, Kepala Dinas Sosial Kota Batam, Leo Putra, mengatakan pihaknya siap bekerja sama dengan Satpol PP untuk menertibkan para pengamen.
“Secara kewenangan perda ada di Satpol PP. Kami siap terlibat dalam pendataan dan pembinaan,” tegasnya.
Leo menjelaskan, pengamen yang terjaring nantinya akan dibina dan dikembalikan ke keluarga atau lembaga sosial.
Jika berasal dari luar daerah, mereka akan difasilitasi pulang ke kampung halaman.
“Kami juga akan telusuri latar belakang sosial mereka sebagai bagian dari kategori PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial),” tambahnya.
Driver Ojol Vs Pengamen
Sementara itu, keributan yang terjadi Kamis (10/7) dini hari, bermula dari ucapan kasar pengamen ke seorang driver ojol. Ucapan itu memicu kemarahan rekan-rekan sesama driver yang kemudian mendatangi lokasi.
“Awalnya rekan kami dihina. Saat kami datang sebagai bentuk solidaritas, malah dilempari batu,” ujar Andri, salah seorang pengemudi.
Pihak kepolisian segera mengamankan situasi. Kapolresta Barelang Kombes Zaenal Arifin mengatakan, delapan orang diamankan karena terlibat penganiayaan. Kedua pihak, driver ojol dan kelompok pengamen, kemudian dipertemukan di Mapolresta untuk proses mediasi.
“Keduanya sepakat berdamai. Tapi kami minta agar peristiwa ini tak terulang,” ujar Zaenal.
Polisi juga mengimbau warga untuk melaporkan jika ada tindakan premanisme atau kekerasan serupa di jalanan. Sementara masyarakat berharap, penertiban pengamen bisa segera dilakukan secara menyeluruh agar tidak muncul korban baru di masa mendatang. (***)
Reporter : Yofi Yuhendri – Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK