Buka konten ini
GAZA (BP) – Serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza, Kamis (10/7), kali ini menghantam area di dekat sebuah pusat medis di Deir al-Balah, Gaza tengah. Dilansir dari channelnewsasia.com, sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas, termasuk anak-anak, dan sejumlah lainnya terluka parah.
Ledakan terjadi saat delegasi Israel dan Hamas berada di Qatar untuk melanjutkan perundingan gencatan senjata yang dirancang berlangsung selama 60 hari, sekaligus membahas pembebasan sandera. Namun, upaya tersebut belum menunjukkan hasil konkret.
Seorang pejabat senior Israel menyatakan, kesepakatan kemungkinan baru tercapai dalam satu hingga dua pekan ke depan.
Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Khalil al-Deqran, serangan menyasar langsung pusat medis tersebut. Enam dari korban tewas adalah anak-anak. “Banyak korban luka mengalami cedera berat di bagian kepala dan dada,” ujarnya.
Militer Israel mengklaim serangan itu ditujukan kepada seorang militan yang terlibat dalam serangan besar Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menjadi pemicu pecahnya perang. Mereka mengaku mengetahui adanya korban sipil dan menyatakan insiden itu sedang dalam penyelidikan.
Sebuah video yang telah diverifikasi Reuters menunjukkan pemandangan memilukan, tubuh-tubuh bersimbah darah—mayoritas perempuan dan anak-anak—tergeletak di tengah kepulan debu, jeritan, dan kepanikan. Beberapa anak terlihat tak bergerak di atas gerobak keledai.
Di Rumah Sakit Martir al-Aqsa, tempat para korban dilarikan, suasana penuh duka. Samah al-Nouri, seorang ibu, menangisi kepergian putrinya yang tewas saat hendak berobat karena sakit tenggorokan.
“Mereka menembaknya dengan peluru. Kakaknya yang mengecek, bilang semua sudah meninggal. Apa salah mereka? Dia cuma mencari pengobatan. Kenapa mereka dibunuh,” ucapnya dengan mata sembab.
Serangan terhadap fasilitas kesehatan bukan kali ini saja terjadi. PBB melalui badan kemanusiaannya, OCHA, melaporkan setidaknya 686 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza sejak perang pecah.
Minimnya pasokan bahan bakar juga mengancam kelangsungan operasional rumah sakit, termasuk unit neonatal Rumah Sakit al-Shifa di Gaza City.
“Kami terpaksa menempatkan empat hingga lima bayi prematur dalam satu inkubator,” kata Direktur RS al-Shifa, dr Mohammed Abu Selmia. “Kondisi mereka kini sangat kritis,” terangnya. (***)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD TAHANG