Buka konten ini
SINGAPURA (BP) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus mengumumkan kejutan tengan tarif baru. Yakni, impor produk tembaga dan barang-barang dari Brasil bakal dikenakan bea masuk sebesar 50 persen. Namun, investor di wilayah Asia sudah mengabaikannya. Hal itu terlihat di bursa saham dan mata uang yang makin menguat.
MSCI, indeks saham untuk negara berkembang Asia, justru naik 0,5 persen, Kamis (10/7). Sementara itu, sub-indeks saham negara-negara ASEAN melonjak ke level tertinggi dalam sepekan. ”Sepertinya investor sudah kebal dengan kejutan Trump. Mereka merasa masih ada ruang untuk negosiasi,” ujar Jeff Ng, pakar strategi makroekonomi Asia dari SMBC kepada Reuters.
Pengaruhnya pun tidak sebesar April karena investor belajar dari pengalaman. Pada kasus-kasus sebelumnya tarif Trump selalu dimulai dari angka fantasis. Namun, presiden membuka negosiasi. Jika pada saatnya tarif benar diberlakukan, Trump pun bisa menganulirnya dalam hanya beberapa bulan.
Investor justru sedang merasa berbunga-bunga melihat kinerja Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) yang naik tinggi. Kontraktor chip terkemuka itu mengatakan bahwa permintaan produknya naik karena implementasi akal imitasi (AI). Laporan TSMC datang sehari setelah raksasa AI Nvidia menjadi perusahaan terbuka pertama di dunia yang valuasinya menembus 4 triliun dolar AS (USD). Faktor lain yang mendorong optimisme investor sendiri adalah catatan rapat dari Bank Sentral AS yang baru dipublikasikan. Keputusan untuk menahan suku bunga dinyatakan sebagai sikap sementara. Banyak komite percaya pasti ada pemangkasan suku bunga pada paruh kedua. Mereka pun menganggap dampak tarif hanya bertahan sementara.
”Dari pandangan kami, The Fed (Bank Sentral AS) akan lebih sensitif terhadap data angkatan kerja daripada inflasi. Jadi, jika mereka melihat bahwa ada penurunan angkatan kerja pada September, pasti akan ada pemotongan suku bunga,’’ jelas Mohit Kumar, pakar ekonomi dari Jefferies.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan dari negosiasi antara negara berkembang dan AS. Terutama, selama kunjungan pertama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke Asia dalam rangka KTT ASEAN di Kuala Lumpur hari ini.
Di pasar mata uang, hampir seluruh mata uang Asia berhasil rebound seiring dolar AS (USD) melemah dari posisi tertingginya dalam dua pekan terakhir. Peso Filipina memimpin penguatan dengan naik 0,4 persen terhadap USD. Sementara dolar Singapura, won Korea Selatan, dan rupiah Indonesia juga menguat hingga 0,3 persen. Ringgit Malaysia naik ke level 4,24 per dolar, Angka itu mematahkan tren pelemahan selama tiga sesi berturut-turut.
”Surat tarif dari AS memang memberi tekanan pada mata uang Asia. Tapi, reaksinya jauh lebih tenang dibandingkan pada April lalu,” ujar Lloyd Chan, analis mata uang senior di MUFG. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG