Buka konten ini
JAKARTA (BP) – Kalangan travel mendukung wacana umrah dan haji lewat jalur laut yang disuarakan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Namun, mereka mengingatkan banyak tantangan untuk mewujudkannya.
”Pada prinsipnya, usulan umrah dan haji lewat jalur laut patut dicoba, tapi tidak boleh dipaksakan,” kata Ketua Umum Kebersamaan Pengusaha Travel Haji Umrah (Bersathu) Wawan Suhada saat dihubungi Jawa Pos kemarin (10/7).
Salah satu tantangannya, kata Wawan, durasi perjalanan jauh lebih lama. Bisa memakan waktu berhari-hari. Otomatis harus dipikirkan juga kegiatan selama di atas kapal. Misalnya, diisi dengan pengajian atau sejenisnya.
Panjangnya durasi perjalanan itu pada akhirnya akan berdampak terhadap biaya. “Jadi, belum bisa dipastikan, haji lewat jalur laut bakal lebih murah dibandingkan lewat udara,” katanya.
Sudah Lama Diwacanakan
Ditemui terpisah, Menag Nasaruddin Umar mengungkapkan, perjalanan haji dan umrah sebetulnya sudah lama diwacanakan. Dan, dalam sejarahnya juga bukan hal baru.
Dulu, lanjutnya, perjalanan jamaah haji lewat laut mencapai tiga hingga empat bulan. Hal ini yang kemudian masih jadi salah satu bahan pertimbangan terkait wacana menghidupkan jalur tersebut kembali.
“Sekarang ini mungkin kapalnya lebih cepat ya. Tapi, kita masih banyak pertimbangan,” ungkapnya seusai rapat tingkat menteri (RTM) soal penanganan kekerasan pada perempuan dan anak di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, kemarin.
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu menyebut negara tetangga seperti Malaysia telah terlebih dahulu mengeksplorasi penggunaan transportasi laut untuk jemaah umrah dan haji. Atau, misalnya, negara-negara yang memang secara geografis lebih dekat dengan Saudi, salah satunya Mesir.
Disinggung soal efisiensi pembiayaan, Nasaruddin mengatakan, itu bergantung operator kapalnya kelak. Jika jumlahnya cukup banyak, harga tentu bisa bersaing.
Saat ini, tambahnya, sudah banyak perusahaan yang datang padanya untuk membicarakan wacana pelaksanaan umrah dan haji via laut. Mereka sudah mempresentasikan produk yang disiapkan.
Namun menurutnya, mereka kebanyakan belum memiliki kapal, sehingga kemungkinan akan bekerja sama dengan pihak luar. “Jadi, mungkin jatuhnya mahal. Tapi ini, sekali lagi, belum kita bahas ya,” ungkapnya.
Diskusi dengan Saudi
Beda dengan haji yang sudah lama absen, untuk umrah, menurut dia, masih ada hingga saat ini yang menggunakan jalur laut. Namun, keberangkatan kapal tidak dari Indonesia. Biasanya, mereka terbang dari tanah air menuju salah satu titik yang cukup dekat dengan Saudi.
Kemudian berganti transportasi laut berupa kapal pesiar untuk melanjutkan perjalanan ke Saudi. “Ada satu-dua orang jemaah Indonesia seperti itu, tapi bayarnya saya enggak tahu. Mereka itu minta apakah itu bisa kita lakukan, apalagi kapal laut daya tampungnya banyak,” katanya.
Kemenag, lanjut Nasaruddin, sudah menyampaikan wacana haji lewat jalur laut tersebut kepada Pemerintah Arab Saudi. Sejauh ini masih terus didiskusikan.
Sebelumnya, dalam peluncuran SGIE Report 2024/2025 dan peringatan satu dekade Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) di kantor Bappenas, Jakarta (8/7), Nasaruddin mengatakan, kalau pemerintah tengah menjajaki kemungkinan dibukanya jalur laut sebagai alternatif pelaksanaan ibadah umrah dan haji.
“Digagas ke depan, kami kira sangat prospektif memperkenalkan umrah dan haji melalui kapal laut. Kami juga kemarin berbicara dengan sejumlah pejabat-pejabat di Saudi Arabia,” kata Nasaruddin ketika itu.
Menurut Nasaruddin, jika infrastruktur pendukung seperti pelabuhan dan sarana transportasi laut telah tersedia, penyelenggaraan haji dan umrah lewat laut dapat menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi masyarakat. “Kalau memang itu persyaratannya terpenuhi, peluangnya sudah dibangun sekarang. Itu terbuka,” ucapnya.
Dia menilai, inisiatif tersebut tidak hanya membuka jalur baru bagi masyarakat, tapi juga akan memberikan nilai tambah bagi Arab Saudi. Terlebih, pendekatan baru yang diambil negara yang beribu kota di Riyadh itu kini lebih terbuka terhadap berbagai inovasi dan investasi strategis.
“Saudi Arabia ini sekarang pendekatannya sangat bisnis, dengan konsultan dari Amerika Serikat. Betul-betul memanfaatkan potensi geografis Saudi Arabia,” ujarnya.
Nasaruddin juga menyinggung rencana modernisasi fasilitas ibadah di Tanah Suci, seperti pembangunan Mina menjadi delapan lantai sehingga tidak ada lagi tenda-tenda seperti sekarang. Kemudian ada pelebaran area Kakbah dan pengurangan bukit di sekitarnya.
”Jalan layang juga akan ditambah. Ini membuka kemungkinan baru dalam pelayanan haji,” katanya.(*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO TEJO