Buka konten ini
TOKYO (BP) – Empat belas tahun setelah bencana nuklir Fukushima, Jepang kembali mengandalkan tenaga nuklir sebagai bagian dari strategi energi nasional. Kebijakan itu dilakukan di tengah melonjaknya harga gas global dan meningkatnya kebutuhan listrik akibat pusat data akal imitasi (AI) yang kian rakus daya.
Dilansir dari Financial Times Selasa (8/7), pemerintah Jepang telah mengizinkan reaktivasi reaktor nuklir yang sebelumnya dinonaktifkan serta membuka peluang pembangunan reaktor baru di lokasi yang sudah ada. Hingga saat ini, 14 dari 54 reaktor yang ditutup setelah bencana Fukushima telah kembali beroperasi.
Para eksekutif perusahaan dan pakar memperkirakan proses reaktivasi akan berlangsung hingga 2030. Setelah itu, Jepang akan mengalihkan fokus pada pembangunan reaktor generasi baru. “Ada konsensus bahwa pada akhirnya, kita memang perlu bergantung pada nuklir. Bertaruh pada SMR (small modular reactors) mungkin menjadi kebutuhan,” ujar Kazuto Suzuki, profesor kebijakan sains dan teknologi di Universitas Tokyo.
Perubahan arah ini ditegaskan dalam revisi rencana energi Jepang hingga 2040 yang diumumkan pada Februari lalu. Dalam dokumen tersebut, Negara Matahari Terbit tidak lagi meminimalkan penggunaan nuklir, melainkan menargetkan pemanfaatan maksimal sumber daya bebas karbon, termasuk energi terbarukan dan nuklir. Kontribusi nuklir dalam bauran listrik Jepang mencapai 8,5 persen dengan target menjadi 20 persen pada 2040.
Dorongan juga dipicu oleh harga gas yang melonjak akibat invasi Rusia ke Ukraina. Jepang merupakan importir gas fosil terbesar kedua di dunia. Di sisi lain, proyeksi konsumsi listrik yang sebelumnya menurun karena populasi menyusut kini dipatahkan oleh lonjakan kebutuhan daya dari pusat data berbasis AI. Kebutuhannya diperkirakan meningkat 2-3 kali lipat pada 2030.
Resistensi Sosial Jadi Tantangan
Namun demikian, resistensi sosial tetap menjadi tantangan utama. Di daerah seperti Kashiwazaki-Kariwa-rumah bagi kompleks PLTN terbesar di dunia-reaktivasi terhambat oleh penolakan dari gubernur setempat. Federasi Pengacara Jepang juga mengkritisi arah kebijakan itu.
“Pemerintah mencoba secara aktif memanfaatkan tenaga nuklir tanpa memperhatikan dampak lanjutan dari kecelakaan Fukushima maupun bahaya dari teknologi ini,” bunyi pernyataan resmi asosiasi tersebut.
Petakan Lima Jenis
Untuk jangka panjang, Jepang telah memetakan lima jenis reaktor nuklir generasi baru yang dinilai lebih aman. Di antaranya high temperature gas cooled reactors (reaktor pendingin gas bersuhu tinggi) dan advanced light water reactors (reaktor air ringan generasi lanjut) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2030-an.
Sementara itu, small modular reactors atau SMR-reaktor kecil yang dirancang lebih fleksibel dan hemat biaya-bersama fast neutron reactors (reaktor cepat berbasis neutron) dan teknologi fusi nuklir menjadi harapan besar untuk memenuhi kebutuhan energi bersih di masa depan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO