Buka konten ini
Menjadi penulis opini bukan perkara enteng. Liku-likunya seperti naik rollercoaster. Seusai menulis disusul perasaan ragu. Apakah tulisan ini cukup kuat, jernih, dan layak tayang.
Setiap pagi adalah detik-detik menunggu paling mendebarkan. Jemari refleks membuka laman e-paper. Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Mencari nama sendiri. Kadang muncul, kadang hilang. Saat tak terbit, muncul tanya dalam hati. Mungkin belum cukup bagus. Mungkin kalah tajam.
Namun, ketika terbit, ada rasa haru yang tak bisa dibayar. Bangga. Gembira. Seperti memekikkan butir gagasan ke tengah samudera publik. Di tengah persaingan yang makin ketat, tampil di rubrik Opini Jawa Pos adalah panggung kehormatan. Apalagi jika tulisan itu dibaca luas, dikutip, bahkan memantik diskusi lanjutan.
Tulisan saya yang terakhir di Jawa Pos (grup Batam Pos) berjudul Bangkai Amoral di Balik Toga Hakim, misalnya, riuh dibawa ke medan diskusi. Menimbulkan pro dan kontra. Beberapa berkirim surat kepada saya menyatakan dukungan. Tapi, beberapa mengirim cibiran. Mereka tak memahami bahwa tulisan tersebut demi menyelamatkan peradilan. Dari kepercayaan publik yang merosot.
Bahkan, Prof Mahfud MD mem-posting ulang tulisan itu di platform X. Mengabarkan bahwa masih banyak hakim yang setia menjaga integritas. Meski tak dimung kiri, ikan busuk dimulai dari kepala.
Keringat dan kegelisahan sepanjang proses menulis opini sungguh sepadan. Karena menulis opini bukan sekadar urusan publikasi. Tapi tentang mengambil bagian dalam percakapan besar bangsa.
Medan Dialektika
Sudah lebih dari tujuh dekade Jawa Pos bukan sekadar surat kabar. Ia saksi zaman. Pengabadi denyut publik. Dan dalam rubrik Opini, ia menjadi ruang paling hidup dari surat kabar itu sendiri.
Rubrik ini tak diam. Ia bicara lantang. Menyuarakan yang tak terwakili. Menantang yang mapan. Menyusup ke ruang-ruang sunyi. Kadang tajam. Kadang menyayat. Tapi selalu bermakna.
Rubrik Opini bukan sekadar tempat menampung pikiran. Tapi juga medan dialektika. Perjumpaan antara nalar publik dan pengalaman personal. Tumbuh bersama pembacanya. Merekam krisis, reformasi, cacat integritas, peralihan kekuasaan, hingga zaman kecerdasan buatan. Dalam perjalanan itu, opini tak hanya menjadi cermin. Ia juga menjadi pandu.
Tak banyak yang menyadari, menulis opini bukan sekadar urusan menyusun argumen. Padahal, ini soal laku perasaan. Kerja keyakinan. Kadang menulis itu perlawanan terhadap ketidakadilan yang dianggap biasa. Dan Jawa Pos memberikan panggung untuk itu semua.
Tentu, tantangan hari ini tak lagi sama dengan dua dekade lalu. Dulu, pembaca bersabar menanti Opini saban pagi. Sembari nyeruput kopi. Kini, semuanya real-time. Cepat. Serba-daring. Perhatian publik pun makin terpecah. Scroll tak sampai tiga detik. Headline adalah segalanya.
Di tengah era serba cepat itu, rubrik Opini harus tetap hadir. Dengan semangat lama, tapi kemasan baru. Bukan berarti kehilangan esensi. Justru makin penting untuk menjaga kedalaman di tengah gempuran yang serbadangkal.
Masalahnya bukan pada teknologi. Tapi pada bagaimana mempertahankan mutu gagasan di tengah banjir distraksi. Dan itulah tantangan semua media, termasuk Jawa Pos.
Egaliter
Keasyikan membaca opini di Jawa Pos ada pada keberagaman suaranya. Layout gambar ilustrasinya yang ciamik. Suara tak melulu dari pusat. Banyak suara pinggiran yang muncul.
Tak semua media cetak nasional membuka pintu seluas itu. Ada proses kurasi, tentu saja. Tapi tetap terasa egaliter. Melangkah ke depan, rubrik Opini perlu menjaga dua hal sekaligus: daya kritis dan daya rangkul. Menyampaikan teguran dengan cerdas. Menawarkan solusi dengan rendah hati.
Ada dinamika menarik selama beberapa tahun terakhir. Makin banyak opini yang tampil dengan gaya naratif. Gaya bercerita yang menggugah. Tak melulu teoretis. Tak melulu padat data. Tapi menyentuh dan reflektif. Inilah pergeseran menarik. Bahasa opini tak lagi terlalu elitis. Ia makin akrab. Ringan. Tapi tetap serius. Dan justru di situlah kekuatannya.
Rubrik Opini ke depan harus tetap menjadi penjaga kewarasan publik. Tak boleh lelah mengoreksi kekuasaan. Tak boleh gentar membongkar kepalsuan. Tak boleh gamang mengusung kebenaran. Perlu membuka lebih banyak pintu. Bagi suara yang lama didiamkan.
Rubrik Opini menjadi ruang eksperimen gagasan. Tempat yang merangsang nalar kritis. Sekaligus menghangatkan empati publik. Kalau politik sering menyulut emosi, maka opini harus menyalakan nalar. Kalau media sosial menyebar hoaks, maka opini harus menyuguhkan verifikasi. Kalau ruang publik kian gaduh, opini menghadirkan kejernihan.
Maka, di ulang tahun ke-76 ini, kami berutang hormat pada rubrik Opini Jawa Pos. Yang telah banyak mengubah cara kita memandang dunia. Menyulut diskusi. Membuka pintu gagasan. (*)