Buka konten ini
BANYUWANGI (BP) – Hingga malam tadi, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan penyebab tenggelamnya KMP (Kapal Motor Penumpang) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali. Fokus utama masih diarahkan pada proses evakuasi para korban.
Mengutip Radar Banyuwangi (grup Batam Pos data resmi menyebutkan bahwa kapal nahas tersebut tenggelam pada Senin (2/7) pukul 23.00 WIB. Kapal itu berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, dengan membawa 65 orang (terdiri atas 12 kru dan 53 penumpang), serta 22 unit kendaraan.
Hingga pukul 20.00 tadi malam (3/7), enam korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, 29 berhasil diselamatkan, dan 30 orang lainnya masih dalam pencarian.
Meski belum ada penyebab resmi, informasi awal yang beredar sejak Kamis (3/7) dini hari menyebutkan bahwa kapal yang dinakhodai Agus Slamet itu kemungkinan tenggelam karena lambung kapal di dekat kamar mesin mengalami kebocoran. Air kemudian masuk ke kamar mesin dan menyebabkan pemadaman total (blackout) pada sistem kelistrikan kapal. Ada juga laporan yang menyebut bagian buritan kapal yang berangkat pukul 22.56 itu dihantam ombak besar hingga air masuk ke dalam.
”Kami mohon doa agar penumpang yang belum ditemukan berada dalam kondisi selamat. Basarnas dan semua pihak terkait sedang bekerja maksimal, kita harap hasil terbaik bisa segera diperoleh,” ujar Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, dalam jumpa pers di Banyuwangi tadi malam.
Sebelum Karam
”Mohon izin, yang terdekat, kapal saya mau tenggelam.” Kalimat itu terdengar dari kanal radio 16 milik KMP Tunu Pratama Jaya yang diterima Kantor KSOP Tanjungwangi pada Rabu malam (2/7). Tak lama setelah transmisi itu, kapal dinyatakan tenggelam di perairan Selat Bali.
Sebelum karam, kapal sempat terombang-ambing di laut sebelum akhirnya tenggelam hanya dalam hitungan menit. Dalam situasi panik, puluhan penumpang dan kru kapal (ABK) melompat ke laut. Dengan mengenakan jaket pelampung, mereka berusaha menyelamatkan diri menggunakan sekoci, rakit penyelamat, atau pelampung. Arus laut yang kuat di Selat Bali menyeret mereka ke arah selatan.
Semua korban dievakuasi ke Gilimanuk. Sekitar pukul 17.24, 21 dari 29 korban selamat tiba di Pelabuhan ASDP Ketapang setelah sebelumnya ditampung sementara di ASDP Gilimanuk.
“Kami pastikan bahwa Pemprov Jatim akan menanggung seluruh biaya pengobatan para korban selamat dari kecelakaan laut KMP Tunu Pratama Jaya yang dirawat di rumah sakit milik Pemprov,” kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Ada Sinyal, tapi Tak Terlihat
Setelah meninggalkan Pelabuhan Ketapang, kapal diketahui mengarahkan haluan ke selatan dan sempat melewati kawasan Dermaga Semen Bosowa. Sekitar pukul 23.15 hingga 23.20—atau sekitar 20–25 menit setelah keberangkatan—nakhoda mengirim sinyal darurat ke Pos Kesyahbandaran Pelabuhan ASDP Ketapang. Namun, setelah itu, selama 15 menit tidak ada lagi respons dari kapal, dan KMP Tunu dinyatakan hilang kontak (lost contact).
Kasi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) KSOP Tanjungwangi, Ni Putu Cahyani Negara, menyebutkan bahwa pihaknya sempat mencoba menghubungi kapal. Sekitar pukul 23.35, atau 40 menit setelah keberangkatan, sinyal dari Automatic Identification System (AIS) kapal masih terdeteksi.
”Masih ada sinyal dari AIS, berarti kapal sempat berada di permukaan. Tapi setelah itu, sinyal dan visualnya hilang sepenuhnya,” ujarnya.
Dua kapal milik operator yang sama—KMP Tunu 388 dan KMP Tunu 5888—langsung diterjunkan ke lokasi terakhir sinyal. Kapal KSOP KM 5200 dan RIB SAR dari Bali juga menyusul ke lokasi pencarian.
“Tapi kapal sudah tak terlihat. Setelah itu, banyak kapal bantuan dari Lanal, Satpolairud, KPLP, dan Basarnas yang bergerak ke sana,” tambah Putu Cahyani.
Tim SAR terus melakukan pencarian setelah kapal dipastikan tenggelam. Koordinator Pos SAR Banyuwangi, Wahyu Setya Budi, menjelaskan bahwa 15 unit peralatan utama telah dikerahkan.
Sekitar pukul 04.00 WIB, Sandi salah seorang kru kapal bersama tiga penumpang lainnya ditemukan selamat di sekitar Pantai Pebuahan, Kabupaten Jembrana. Mereka ditemukan menggunakan sekoci. Penemuan ini mendorong tim untuk memperluas dan mengintensifkan pencarian.
Mengenai penyebab kapal tenggelam, Wahyu menyebutkan belum bisa dipastikan. Namun, saat kejadian, kondisi laut cukup ekstrem. “Tinggi gelombang mencapai 2,5 meter saat itu. Itu menyulitkan kami karena batas normal untuk RIB hanya 1,5 meter,” ungkapnya.(***)
Reporter : JP GROUP
Editor : ryan agung