Buka konten ini
KREMLIN (BP) – Harapan akan berakhirnya perang Rusia-Ukraina tampaknya masih harus menempuh jalan panjang. Dilansir dari channelnewsasia.com, Kremlin menyatakan, kecepatan perundingan untuk menghentikan konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2022 itu bergantung pada tiga hal, posisi Ukraina, efektivitas mediasi Amerika Serikat, dan dinamika situasi di lapangan.
“Banyak hal bergantung, tentu saja, pada posisi rezim Kyiv,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam wawancara dengan stasiun televisi Belarus 1, Minggu (29/6).
Ia menambahkan, keberhasilan diplomasi Washington juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah perundingan. “Selain itu, perkembangan di medan tempur adalah elemen yang tidak bisa diabaikan,” ujarnya.
Namun, Peskov tidak menjelaskan secara rinci apa yang diharapkan Moskwa dari Kyiv maupun dari Amerika Serikat. Selama ini, Rusia tetap bersikukuh pada tuntutan lamanya, Ukraina harus menyerahkan wilayah tambahan dan menghentikan kerja sama militer dengan negara-negara Barat. Syarat ini selalu ditolak keras oleh pihak Kyiv.
Lima bulan telah berlalu sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjabat. Janjinya yang bombastis saat kampanye Pilpres 2024mengakhiri perang hanya dalam satu harimasih jauh dari kenyataan. Sejak dilantik pada Januari lalu, Trump telah mendorong kedua belah pihak agar duduk dalam perundingan. Pada Jumat pekan lalu, ia menyatakan optimistis.
”Saya pikir sesuatu akan terjadi,” ujarnya kepada pers, merujuk pada kemungkinan kesepakatan perdamaian.
Sampai kini belum ada tanggal pasti untuk putaran pembicaraan berikutnya. Meski begitu, menurut Peskov, Moskwa berharap penjadwalan itu bisa segera ditentukan ”dalam waktu dekat”.
Sebelumnya, setelah vakum lebih dari tiga tahun, Rusia dan Ukraina kembali membuka saluran dialog langsung pada 16 Mei dan 2 Juni lalu di Istanbul. Dua pertemuan tersebut menghasilkan pertukaran tahanan dan pemulangan jenazah prajurit dari kedua belah pihak. Namun, belum ada kemajuan berarti menuju gencatan senjata yang permanen.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut dokumen rancangan perdamaian yang dibawa ke pertemuan 2 Juni sebagai memorandum yang sepenuhnya bertolak belakang . Di medan tempur, Rusia terus menggencarkan serangan secara bertahap. Kini, Moskwa menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina dan baru-baru ini merebut sejumlah wilayah di tenggara, termasuk di Donetsk dan Dnipropetrovsk. (*)
Reporter : GALIH ADI SAPUTRO
Editor : MUHAMMAD NUR