Buka konten ini
JAKARTA (BP) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu atau periode 21-25 April 2025 mengalami kenaikan 3,74 persen selama sepekan. Kapitalisasi pasar juga tercatat terkerek sebesar 3,97 persen. Analis memproyeksi tren positif tersebut masih akan bertahan pada pekan ini.
Pada perdagangan Jumat (25/4), IHSG ditutup pada level 6.678,91. Angka tersebut naik dari penutupan pekan sebelumnya yang berada pada level 6.438,26. Sementara itu, kapitalisasi pasar di bursa efek tercatat sebesar Rp11,56 triliun atau naik penutupan pekan lalu, Rp11,12 triliun.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengatakan, gerak IHSG pekan lalu hingga pekan ini tidak lepas dari momen rilisan kinerja keuangan emiten. Misalnya, pertumbuhan laba BBCA pada pekan lalu yang berhasil mengerek harga saham BBCA kurang lebih 1,18 persen dalam sepekan.
“Berkaca pada kinerja BBCA, kinerja bank-bank berkapitalisasi besar diyakini masih relatif solid di kuartal I 2025 meski dibayangi oleh kecenderungan peningkatan NPL (rasio kredi macet) dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah,” papar Valdy, Minggu (27/4).
Valdy menyebutkan, kinerja keuangan emiten di sektor perbankan bisa menjadi indikasi perekonomian domestik. Hal itu dilihat dari penyaluran kredit. Selain laporan keuangan, sentimen positif lain yang juga memengaruhi IHSG pekan ini adalah perkembangan kebijakan perang tarif impor antara Tiong-kok dan Amerika Serikat (AS).
Tiongkok dikabarkan akan menunda tarif 125 persen untuk beberapa barang AS. Sedangkan, Negeri Paman Sam itu bakal tidak menerapkan tarif imbal balik untuk produk-produk elektronik, komputer, dan smartphone dari Negeri Panda.
Valdy menambahkan, Phintraco juga mencermati dari sisi global bahwa pasar tengah menantikan rilis data Michigan Consumer Sentiment US yang diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan estimasi awal, indeks tersebut turun ke level 50,8 pada bulan ini. Angka itu menandai pelemahan selama empat bulan berturut-turut dengan akumulasi koreksi lebih dari 30 persen sejak Desember 2024. “Tren ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap perkembangan perang dagang yang terus berfluktuasi sepanjang tahun,” tambahnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : GALIH ADI SAPUTRO