Buka konten ini
Ketika Hanugra Aulia Sidharta mengalami gangguan retina di kedua mata, sang istri, Diah Risqiwati, menjadi indra penglihatan baginya. Bagi mereka, sama-sama lulus sebagai doktor lebih dari sekadar pencapaian akademik, tapi simbol keberhasilan mengatasi kesulitan hidup.
TITIK terberat ketika penglihatannya terganggu itu bisa dilalui Hanugra Aulia Sidharta berkat keteguhan sang istri, Diah Risqiwati, mendampingi. Mulai urusan menulis, membacakan jurnal referensi, sampai mempersiapkan presentasi kandidasi.
”Keluarga, teman-teman kampus, dan dosen pembimbing juga turut menyemangati,” tutur Kiki, sapaan akrab Diah Risqiwati, tentang masa-masa perjuangan bersama sang suami untuk menyelesaikan pendidikan strata 3 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
Keduanya akhirnya memetik buah perjuangan keras tersebut. Dr Hanugra Aulia Sidharta ST MMT dan Dr Diah Risqiwati ST MT yang sama-sama dari Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) ITS berbarengan diwisuda sebagai doktor, Minggu (13/4).
”Senang banget bisa lulus bersamaan setelah banyak suka duka yang dialami. Di laboratorium, kawan-kawan bahkan menjuluki kami Habibie dan Ainun,” kata Hanugra yang bersama Kiki sama-sama menjadi dosen di kampus swasta di Malang, Jawa Timur, itu, merujuk kepada pasangan mantan presiden dan ibu negara.
Padahal, mereka awalnya juga sempat ragu studi doktoral. ”Karena banyak yang bilang susah. Tapi, saya bilang ke istri, udah gak papa dicoba dulu,” terang Hanugra yang mengajar di Binus University, Malang, itu.
Kiki yang mengajar di Universitas Muhammadiyah Malang itu yang akhirnya lebih dulu menempuh studi doktoral di FTEIC ITS pada 2019. Sang suami menyusul setahun kemudian.
”Setelah lihat istri kuliah lagi, saya bagaikan katak dalam tempurung. Strata 3 itu memang sulit, tapi juga banyak hal menarik dan asyik,” ucapnya.
Walau berada di departemen yang sama, keduanya memiliki fokus riset yang berbeda. Hanugra berfokus pada pengolahan citra, sedangkan Kiki di pengolahan sinyal.
Cara belajar mereka pun berbeda. Kiki lebih cocok belajar saat malam di kala sedang tenang. ”Sedangkan saya lebih suka belajar saat office hour,” ungkap Hanugra.
Semua berjalan lancar di awal masa-masa kuliah, meski jarak dari Malang tempat mereka tinggal ke Surabaya tempat mereka berkuliah tak bisa dibilang dekat. Cobaan mulai datang ketika Hanugra didiagnosis ablasio retina di mata kanan pada 2021.
Ablasio retina adalah kondisi retina yang terlepas dari jaringan. Mata kirinya juga terkena satu tahun kemudian. ”Waktu awal kena itu masih bisa pulang pergi nyetir sendiri. Setelah itu benar-benar nggak bisa lihat, jadi akhirnya kami naik kereta,” tutur Kiki.
Hanugra sampai melakukan tujuh kali operasi dengan masa penyembuhan selama dua tahun. Sebuah fase yang sangat berat. Kiki harus terus menyemangati sang suami agar tak patah semangat.
Dia bahkan sempat berujar bakal menjadi indra penglihatan apabila sampai kesulitan melihat. Dan, itu benar-benar dia lakukan dengan membantu belahan jiwanya tersebut mengarungi beragam proses perkuliahan.
Ketika semua tahapan operasi sudah dijalani Hanugra, penglihatannya kembali. Tapi, masih terbatas. Semacam low vision.
Untuk menyiasati, Hanugra menggunakan dark mode saat mengetik dan ukuran font yang lebih besar. Perlahan semangatnya menuntaskan studi doktoral kembali mengorbit.
Apalagi ketika pada 2023 mereka mendapatkan hibah riset ke Shibayra Institute of Technology di Jepang. Karya ilmiah keduanya juga diakui secara internasional. Hanugra dan Kiki memublikasikan dua jurnal internasional terindeks Q1 dan Q2.
Sampai akhirnya mereka sama-sama bisa sampai ke garis finis studi doktoral. Bagi keduanya, itu tak semata pencapaian akademik. Tapi, juga simbol keberhasilan atas tantangan hidup.
Gelar doktor bagi keduanya juga bukan titik akhir, melainkan titik awal untuk berkontribusi lebih. Karena itu, keduanya merintis organisasi nonprofit yang berfokus pada bidang penelitian dan pengabdian.
”Istri sudah aktif mengajar, kalau saya masih belum. Intinya jangan sampai ilmu hanya di atas kertas saja, tapi juga harus berdampak bagi masyarakat luas,” tuturnya. (***)
Reporter : RAMADHONI CAHYA C.W
Editor : RYAN AGUNG