Buka konten ini
Ketika kebanyakan pengarang novel historis menyajikan kisah pilu di balik genosida hingga trauma pascaperang secara menggebu-gebu, Adania bercerita dengan cara lain: menyamarkan kritik lewat detail-detail kecil.
KEPIAWAIAN pengarang fiksi sejarah dapat diukur dari seberapa cermat ia mereplika peristiwa sejarah. Bukan hanya seberapa jeli ia memfaktualkan peristiwa sejarah, melainkan juga seberapa piawai ia menarasikannya. Adania Shibli jelas satu dari sekian pengarang yang memiliki kepiawaian semacam ini.
Segera, begitu membuka halaman awal novel teranyarnya, تفصيل ثانوي, yang diterjemahkan dari bahasa aslinya menjadi Detail Kecil, kita akan melihat bagaimana piawainya Adania mereplika kilasan peristiwa Perang Nakba Israel-Palestina 1948 lewat penggambaran latar yang mencekam:
”Tidak ada yang bergerak selain fatamorgana di tengah gurun tak bertepi. Di atasnya, langit bergetar sunyi dan cahaya matahari sore mengaburkan garis-garis punggung bukit yang berwarna kuning pucat… Kali pertama sampai di tempat ini, mereka hanya menemukan dua gubuk kayu dan sisa dinding gubuk yang setengah hancur. Hanya itu yang tersisa dari serangan brutal di awal perang.”
Dua Cerita Lintas Masa
Selaiknya catatan sejarah yang dirunut secara linear, kisah disajikan Adania sedemikian rupa. Usai mendeskripsikan situasi Gurun Negev di tengah kecamuk perang secara cermat, Adania lantas membawa pembaca mengamati sekompi tentara Israel yang bertugas-jaga di gurun tersebut pada 9–13 Agustus 1949 sepanjang bab pertama.
Secara keseluruhan, novel ini dibagi menjadi dua bab. Pada bab pertama, kisah berfokus pada aktivitas komandan kompi beserta pasukannya selama empat hari yang terasa panjang dan menegangkan. Lewat sudut pandang orang ketiga, pembaca akan menyaksikan saat tentara-tentara itu mendirikan kamp, membangun parit, berpatroli, hingga akhirnya membunuh sekelompok Arab Badui dan memerkosa seorang gadis di antaranya.
Empat hari yang mencekam tersebut bukan hanya lantaran terjadinya pembunuhan sekelompok Arab Badui yang dianggap penyusup atau karena jerit tangis seorang gadis Badui yang menggantung nasibnya pada popor senapan para tentara Israel, melainkan juga karena nuansa kesunyi-senyapan yang Adania hadirkan.
Sebab, ketika kebanyakan pengarang novel historis menyajikan kisah pilu di balik genosida hingga trauma pascaperang secara menggebu-gebu diiringi suara yang lantang, Adania bercerita dengan cara lain: ia memilih sepi.
Adania tidak menyuguhkan pembaca narasi keberpihakan kepada korban dengan narasi didaktis nan sarat kritik sosial, melainkan memilih untuk menyamarkan kritiknya lewat detail kecil sebagaimana disiratkan judul buku ini.
Intensi tersebut barangkali dimaksudkan untuk menyiasati sensor. Atau secara halus, seperti yang dikatakan tokoh Aku pada bab dua –ketika cerita berganti sudut pandang dan lini masa ke separo abad ke depan, agar pembaca tidak kikuk.
”Semoga aku tidak membuat keadaan jadi kikuk ketika menceritakan situasiku saat berhadapan dengan tentara dan pos pemeriksaan, atau ketika mengatakan bahwa kami di sini hidup di bawah penjajahan.” (hal 57)
Kita tahu, konflik tak berkesudahan antara Israel-Palestina telah menjadi topik sentral dalam banyak karangan pengarang Palestina lainnya, jauh sebelum Adania menulis novel ini. Dan hampir semua pengarang yang mengangkat isu ini dalam karyanya memiliki muatan politis yang sama. Yakni, mengecam para otoritas yang bertanggung jawab atas konflik ini. Maka tak ayal jika penulis kelahiran 1974 ini menggugat hal serupa lewat Detail Kecil.
Kritik-Kritik Lewat Detail Kecil
Dengan cara yang terbilang lembut namun berhasil menyentak dada pembaca, kita dapat menangkap gugatan Adania terhadap konflik yang terjadi di negaranya. Saking berlarut-larutnya konflik ini, ”sampai-sampai banyak orang yang masih hidup tidak mampu mengingat detail-detail kecil yang berkaitan dengan keadaan mereka sebelum penjajahan…” (hal 57-58)
Lebih lanjut, pembaca juga akan menangkap-serap kesenjangan yang terjadi di tengah genosida lewat rentetan kritik yang ia selipkan melalui banyak detail kecil. Bisa kita lihat, misalnya ketika tokoh Aku mesti mengambil jalan lain menuju kantornya karena hampir di setiap sudut jalan, terdapat tentara Israel dengan senapannya yang siap menembak siapa saja warga Palestina yang dianggap mencurigakan. (hal 59)
Lalu, detail berkait kartu identitas yang dibatasi sesuai zonasi serta tetek-bengek surat izin administrasi yang menyulitkan aktivitas warga Palestina (hal 65-66). Serta detail berkait perbedaan defisit air antara kota-kota Palestina dengan kota-kota Israel. Seperti digambarkan tokoh Aku ketika ia meninggalkan Ramallah dan menyusuri Negev untuk mencari kebenaran atas kasus pembunuhan seorang gadis Badui di masa lalu:
”Pancuran deras air hangat mengguyur tubuhku dan seketika mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di Ramallah. Di sini, aku tidak perlu mandi dengan waswas di Ramallah; jikalau tidak segera menutup keran, aku akan merasa bersalah setelah menghabiskan air di bak penampungan sehingga para tetanggaku tidak kebagian.” (hal 104).
Demikian, pada akhirnya, detail-detail kecil dalam novel sepanjang 118 halaman ini berhasil menyadarkan pembaca bahwa konflik yang berlarut-larut antara Israel dan Palestina sejatinya tidak menghasilkan apa-apa kecuali derita-nestapa yang menimpa rakyat sipil semata. Dan, apa yang Adania suarakan dari sudut Palestina jelas akan meninggalkan gema yang menggetarkan sekaligus mengusik nurani pembaca seantero dunia. (*)
—
Judul buku: Detail Kecil
Penulis: Adania Shibli
Penerjemah: Zulfah Nur Alimah
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, September 2024
ISBN: 978-623-186-431-4
—
*) Atu Fauziah, Menulis esai, resensi, dan puisi; bergiat di Lingkar Studi Feminis
Karya : Atu Fauziah
Editor : MUHAMMAD NUR