Buka konten ini
WASHINGTON (BP) – Proses negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif resiprokal masih berlangsung. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang memimpin delegasi menyebut, AS menyambut baik langkah responsif Indonesia untuk berdiskusi.
Indonesia juga menjadi bagian dari 20 negara pertama yang melakukan negosiasi dengan AS. Dalam proses negosiasi, tutur Airlangga, Indonesia berupaya mengedepankan kepentingan nasional dengan tetap mendorong penguatan hubungan bilateral dengan Negeri Paman Sam.
Permintaan Indonesia kepada AS juga dirancang secara seimbang. ”Karena kita dalam proses perundingan, tentu apa yang ditawarkan dan apa respons itu masih merupakan hal yang dinamis, jadi bukan posisi yang statis,’’ jelasnya pada konferensi pers secara virtual, Jumat (25/4).
Airlangga menambahkan, permintaan setidaknya mengakomodasi lima manfaat. Yakni, memenuhi kebutuhan dan menjaga ketahanan energi nasional; memperjuangkan akses pasar Indonesia ke AS, khususnya dengan kebijakan tarif yang kompetitif bagi produk ekspor Indonesia; dan deregulasi untuk meningkatkan kemudahan berusaha, perdagangan, dan investasi yang akan menciptakan lapangan pekerjaan. Juga, memperoleh nilai tambah dengan kerja sama supply chain atau rantai pasok industri strategis dan critical minerals serta akses ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang, antara lain kesehatan, pertanian, dan energi terbarukan.
Dalam dua pekan ke depan, negosiasi yang lebih intensif akan dilakukan Indonesia dan AS. Rabu (23/4), delegasi Indonesia dan USTR (United States Trade Representative) juga telah menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) terkait Bilateral Agreement on Reciprocal Trade, Investment, and Economic Security sebagai landasan bagi kelanjutan pembahasan di tingkat teknis.
Di Washington, pemerintah Indonesia juga telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para pengusaha dan asosiasi bisnis. Di antaranya Semiconductor Industry Association (SIA), USABC, USINDO, Amazon, Microsoft, dan Google, dalam rangka penguatan kerja sama antara Indonesia dan AS di berbagai sektor.
“Jadi, ini sebuah pengakuan dari AS terhadap langkah-langkah yang dilakukan Indonesia. Dengan bekal komunikasi awal yang tadi disampaikan, Indonesia among the first timer, the first mover, itu memberi keuntungan bagi Indonesia dalam proses perundingan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers yang sama.
Sebelumnya, Ani, sapaan akrab Sri Mulyani, juga menekankan bahwa hubungan Indonesia dengan AS maupun Tiongkok, dua negara yang tengah terlibat perang tarif, masih berjalan baik. Posisi Indonesia tetap terjaga di zona netral.
Indonesia juga memilih langkah negosiasi dan menjaga hubungan dagang dengan dua mitra tersebut. “Jadi, negosiasi memang adalah negosiasi untuk saling memberi dan menawarkan, kemudian saling kompromi. Tujuannya adalah win-win solutions. Kata-kata win-win solutions, non-zero sum game, itu adalah yang sampai tadi malam disuarakan oleh semua pihak,” jelasnya.
Di tengah negosiasi yang masih berlangsung dengan AS, Ani juga menyebut bahwa dia telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Tiongkok Lan Fo’an. Dia juga mendapat undangan ke Beijing untuk mempererat hubungan kedua negara.
Sementara itu, Tiongkok membuka keran ekspor lebih lebar untuk sejumlah produk Indonesia. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rolliansyah Soemirat mengungkapkan, pada pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri (Menlu) Tiongkok Wang Yi dan Menlu Sugiono belum lama ini, ada keinginan kuat dari pemerintah Tiongkok untuk memberikan akses secara lebih besar kepada produk-produk Indonesia.
”Secara spesifik dibahas mengenai produk-produk perikanan dan juga buah durian,” ujar pria yang akrab disapa Roy tersebut.
Bulan lalu, Tiongkok sebenarnya sudah menantang durian Indonesia bersaing di pasar Tiongkok melawan durian asal Thailand dan Vietnam yang sudah mendominasi sebelumnya. Selama ini, Thailand dan Vietnam mendominasi dengan masing-masing 57 persen dan 38 persen. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RYAN AGUNG